Repelita [Jakarta] - Kondisi wilayah Aceh pascabencana banjir dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November 2025 dikabarkan masih memprihatinkan hingga memasuki Juni 2026.
Proses pemulihan infrastruktur serta penyediaan hunian bagi warga terdampak dinilai berjalan lamban, sehingga banyak masyarakat belum mampu kembali hidup mandiri.
ADVERTISEMENT
Data lapangan menunjukkan realisasi pembangunan hunian sementara baru mencapai 45 persen dari target, sementara enam rumah sakit daerah belum dapat beroperasi secara optimal.
Sektor pendidikan juga terdampak cukup parah, di mana terdapat 52 sekolah yang terpaksa menjalankan kegiatan belajar mengajar di dalam tenda darurat atau menumpang di fasilitas lain.
Kondisi tersebut terlihat jelas dalam unggahan akun X milik @ommi_siregar pada 7 Juni 2026, yang memuat potret memilukan di lokasi bencana seperti terlihat pada image_c32dbd.jpg.
Melalui unggahan tersebut, ia menuliskan, "Ke perancis 3x bisa, giliran aceh 7 bulan ga beres beres. Padahal honeymoon ke sabang juga bagus ga harus paris.."
Respons warganet pun bermunculan menanggapi lambatnya penanganan pemerintah, termasuk akun @EdiKeceput2 yang menyindir klaim pemerintah tentang kemajuan pemulihan wilayah tersebut.
"Kantor Kepresidenan pada pekan ke 3 Maret 2026 menyatakan, penanganan bencana Aceh tlh mencapai hampir 100%," tulis akun tersebut dalam cuitannya pada 7 Juni 2026.
Hingga saat ini, ribuan warga dilaporkan masih bertahan di pengungsian dengan keterbatasan akses ekonomi dan fasilitas umum yang rusak akibat terjangan banjir bandang. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Ke perancis 3x bisa, giliran aceh 7 bulan ga beres beres.
— Ommi de Queen👑 (@ommi_siregar) June 6, 2026
Padahal honeymoon ke sabang juga bagus ga harus paris.. 😎 pic.twitter.com/FjZJHULeRM