Repelita [Jakarta] - Gelombang kritik tajam menerpa pimpinan tertinggi pemerintah daerah Jambi usai menyampaikan paparan mengenai penanganan bencana asap.
Kepala daerah tersebut mengklaim di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa kobaran api di wilayahnya telah berhasil dipadamkan sepenuhnya.
ADVERTISEMENT
Namun klaim keberhasilan itu langsung menuai pro kontra lantaran realitas di lapangan menunjukkan area musibah justru kian meluas.
Dalam rekaman rapat yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, dialog antara kepala negara dan pimpinan daerah itu menjadi sorotan publik luas.
"Sudah berkurang lagi? Tinggal 120 hotspot ya?" tanya Prabowo.
"Jadi tidak ada titik api, tidak ada ya?" kata Kepala Negara untuk mendapatkan kepastian.
"Tidak pak, tidak ada pak," jawab Al Haris.
"Alhamdulillah, berarti tidak ada lagi kebakaran lagi di Jambi?" ujar Prabowo.
Al Haris kemudian kembali menegaskan bahwa sudah tidak ada titik api di Jambi.
"Kalau api, tidak ada pak," kata Al Haris.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah," ungkap Prabowo.
Keterangan tersebut sontak memicu keheranan banyak pihak karena kontras dengan kondisi riil yang dihadapi satuan tugas di wilayah terdampak.
Berdasarkan data aparat militer setempat, kantong-kantong api aktif masih terpantau membakar sejumlah kawasan hutan dan lahan warga.
"Per hari ini, kondisi api yang masih ada terdapat di Lubuk Nagodang, Sarolangun dan Pandan Sejahtera," ujar aparat terkait.
"Sementara di Sungai Gelam sudah padam, kemudian muncul lagi asap," imbuhnya.
Bahkan akumulasi luas lahan yang terbakar di seluruh wilayah tersebut melonjak signifikan hingga mencapai ratusan hektare lebih.
Menanggapi polemik yang kadung memanas di ruang digital, pejabat bidang komunikasi pemda setempat bergegas memberikan klarifikasi resmi.
Pihaknya bersikeras bahwa pemaparan yang disampaikan pimpinan mereka sudah sesuai dengan klasifikasi teknis penanggulangan bencana kebakaran.
"Enggak ada (tittik api) sudah benar itu (laporan Al Haris)," ucap Ariansyah saat dikonfirmasi.
"Yang ada hotspot dan titik api tidak ada lagi," sambungnya.
"Beda antara hotspot dan titik api," tambahnya.
"Saat ini pendinginan, sehingga menimbulkan banyak asap dan petugas tetap standby di lapangan agar proses pendinginan berjalan dan api tidak akan hidup kembali," pungkas pejabat tersebut.
Kendati demikian, publik telanjur meramaikan lini masa dengan berbagai kecohan serta catatan kritis terhadap validitas laporan pejabat pemerintah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok