Berita, Timur Tengah

Gencatan Senjata AS-Iran Gagal Total, Israel Luncurkan Operasi Kegelapan Abadi ke Lebanon dengan 160 Bom dalam 10 Menit

Repelita.net

10 April 2026 14:43 WIB • 858 view

Gencatan Senjata AS-Iran Gagal Total, Israel Luncurkan Operasi Kegelapan Abadi ke Lebanon dengan 160 Bom dalam 10 Menit
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gencatan senjata yang dinanti-nantikan oleh dunia antara Amerika Serikat dan Iran ternyata hanya bertahan selama beberapa jam setelah Israel melancarkan serangan udara intensif.

Pada Kamis (9/4/2026), Israel menjatuhkan lebih dari 160 bom dalam waktu hanya 10 menit ke berbagai wilayah di Lebanon dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Tentara Israel menggambarkan serangan tersebut sebagai bagian dari operasi baru bernama Kegelapan Abadi (Eternal Darkness), mengklaim bahwa targetnya adalah situs-situs milik Hizbullah.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bangunan permukiman warga sipil hancur total di tengah laporan ratusan korban jiwa yang terus bertambah jumlahnya.

Menurut laporan terbaru Al Jazeera, setidaknya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan dahsyat tersebut.

Jumlah korban ini naik secara signifikan dari laporan awal yang sebelumnya menyebutkan 254 korban jiwa.

Lebih dari 1.400 anggota Hizbullah telah tewas dalam kampanye militer Israel sejak konflik dimulai pada Maret 2026.

Angka ini lebih dari dua kali lipat jumlah korban dalam Perang Lebanon Kedua yang terjadi pada tahun 2006 silam.

Sekitar 50 jet tempur Israel ambil bagian dalam operasi skala besar ini dengan menghantam sekitar 100 target yang diklaim sebagai pusat komando Hizbullah.

Target-target tersebut tersebar di Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan Lebanon yang merupakan basis kekuatan Hizbullah.

Para saksi mata menggambarkan suasana panik di ibu kota Beirut dengan ledakan yang terdengar simultan di berbagai distrik.

Ledakan terjadi di kawasan pemukiman padat seperti Corniche al Mazraa, Manara, dan Ain Al Mraiseh yang sebagian besar dihuni warga sipil.

Seorang warga Beirut bernama Khaled Salam menunjukkan kepada wartawan AFP tumpukan buku dan perlengkapan sekolah di antara reruntuhan bangunan.

"Lihat, ini buku catatan sekolah, catatan kelas, buku! Di mana Hizbullah di sini? Tidak ada Hizbullah di lingkungan ini!" protesnya dengan suara bergetar penuh emosi.

Kontroversi terbesar dari serangan ini adalah waktunya yang terjadi hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa wilayah Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.

"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel, kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menghantam Hizbullah di mana pun diperlukan," ujar Netanyahu.

Pernyataan Israel ini langsung menuai kecaman internasional dari berbagai negara dan organisasi kemanusiaan dunia.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan tegas menyatakan bahwa klaim Israel mengenai Lebanon tidak tercakup dalam gencatan senjata adalah salah.

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga memperingatkan bahwa keganasan yang digunakan Israel dalam berperang dapat menyebabkan proses perdamaian secara keseluruhan gagal.

Sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, Iran mengambil langkah dramatis dengan menutup kembali Selat Hormuz.

Media negara Iran melaporkan bahwa Teheran menutup jalur vital yang dilalui seperlima minyak dunia serta gas alam dalam jumlah besar.

Penutupan ini bukan pertama kalinya terjadi karena Iran telah memblokade jalur pelayaran utama ini sejak awal Maret 2026.

Sebagai alternatif, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan rute pelayaran baru di dekat Pulau Larak untuk kapal-kapal yang melintas.

Menteri Pertahanan Israel Katz merespons dengan peringatan keras bahwa IDF siap bertindak dengan kekuatan penuh jika Iran menembaki Israel.

Presiden AS Donald Trump juga angkat bicara melalui TruthSocial dengan menuntut Selat Hormuz dibuka kembali tanpa syarat.

Trump mengancam akan mengambil tindakan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya jika gencatan senjata yang ada dilanggar oleh pihak mana pun.

Menteri Pertahanan Israel Katz mengklaim bahwa lebih dari 200 anggota Hizbullah tewas dalam serangan tersebut dan kelompok itu memohon gencatan senjata.

"Operasi Kegelapan Abadi adalah pukulan yang sangat kuat bagi Hizbullah, membuat mereka tertegun dan bingung dengan kedalaman penetrasi dan skala serangan," kata Katz.

Katz juga merinci upaya militer Israel untuk membangun zona keamanan baru di Lebanon selatan dengan empat garis pertahanan.

Zona tersebut mencakup garis perbatasan di mana IDF akan meratakan desa-desa Lebanon hingga garis Sungai Litani.

Kepala Staf Angkatan Darat Israel Eyal Zamir mengunjungi pasukan darat di dalam Lebanon pada Kamis dan memberi tahu mereka bahwa Hizbullah telah menerima pukulan berat.

Di tengah eskalasi ini, Amerika Serikat mengumumkan akan menjadi tuan rumah pembicaraan antara Israel dan Lebanon pada pekan depan.

Namun seorang pejabat pemerintah Lebanon memberi tahu AFP bahwa Beirut membutuhkan gencatan senjata terlebih dahulu sebelum memulai negosiasi apa pun.

Seorang anggota parlemen Hizbullah kemudian mengulangi penolakan kelompoknya terhadap negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa Teheran melihat Lebanon sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan serangan Israel membuat pembicaraan dengan utusan AS yang direncanakan akhir pekan ini menjadi tidak berarti.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memposting di X: "Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS, dan dunia sedang menonton apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya."

Para analis melihat serangan ini sebagai langkah politik Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah tekanan domestik.

"Pada akhirnya, Benjamin Netanyahu ingin perang ini berlanjut. Kelanjutan perang ini memang melayani karier politiknya. Ada kemungkinan dia ingin menyabotase gencatan senjata AS-Iran," kata Mahjoob Zweiri.

"Perang yang panjang membantunya meraih lebih banyak suara dan lolos dari pengadilan dan hal-hal lain, tetapi saya tidak yakin ini membantu Amerika Serikat," tambah Zweiri.

Analis lain melihat pola yang lebih dalam dari keinginan Israel untuk memastikan Hizbullah tidak lagi menjadi ancaman.

"Tetapi setelah gencatan senjata, Israel ingin memastikan untuk mengeksploitasi ambiguitas dalam kesepakatan AS-Iran untuk mendapatkan keuntungan maksimal sebelum Trump menyuruh mereka berhenti," pungkas Joost Hiltermann.

Hingga berita ini diturunkan, serangan Israel masih terus berlanjut dengan laporan serangan udara kembali menghantam pinggiran selatan Beirut pada Kamis pagi.

Dunia kini menunggu apakah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran akan bertahan atau justru meledak menjadi perang regional yang lebih besar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung