Berita, Timur Tengah

Gencatan Senjata AS-Iran Dua Pekan Terancam Gagal, Israel Babi-buta Serang Lebanon saat Dunia Terguncang Krisis Energi

Repelita.net

10 April 2026 12:50 WIB • 1,129 view

Gencatan Senjata AS-Iran Dua Pekan Terancam Gagal, Israel Babi-buta Serang Lebanon saat Dunia Terguncang Krisis Energi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Setelah 40 hari terjebak dalam eskalasi militer yang menghancurkan, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada Rabu (8/4/2026) kemarin.

Langkah diplomatik ini menandai titik balik penting dengan negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada hari Jumat mendatang.

ADVERTISEMENT

Fokus utama dari dialog ini adalah tawaran 10 poin dari Teheran, yang salah satu poin krusialnya mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Sayangnya, gencatan senjata ini dinilai sangat riskan karena risiko pecahnya perang kembali membesar akibat sekutu AS yaitu Israel yang membabi-buta menyerang Lebanon saat situasi perundingan baru dimulai.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi energi dunia di mana sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melintas di sana dalam kondisi normal.

Penutupan jalur ini sejak awal konflik telah memicu guncangan hebat pada pasar komoditas internasional di berbagai belahan dunia.

Pengumuman gencatan senjata ini pun langsung direspons positif oleh pasar karena harga minyak mentah yang sempat bertahan di atas 110 dolar AS per barel selama masa perang seketika merosot ke angka 92 dolar AS per barel pada Rabu sore meskipun kini berada di kisaran 96 dolar AS.

Dampak dari enam minggu pertempuran ini ternyata telah melampaui batas-batas wilayah Timur Tengah dengan lebih dari 100 negara terpaksa menaikkan harga bahan bakar di tingkat konsumen secara drastis.

Di Asia, situasi ini memicu status darurat energi nasional yang membuat beberapa pemerintah menerapkan kebijakan belum pernah terjadi sebelumnya untuk menekan konsumsi energi.

Kebijakan tersebut meliputi pemberlakuan kembali kerja dari rumah (WFH), pemangkasan hari kerja dalam sepekan, penjatahan bahan bakar secara ketat, hingga pemberlakuan jam malam guna mengurangi aktivitas mobilitas warga.

Meskipun pembukaan Selat Hormuz menjadi katup pelepas bagi krisis ini, para ahli memperingatkan bahwa pemulihan tidak akan terjadi dalam semalam karena berbagai kendala teknis.

Membuka kembali jalur air hanyalah satu bagian dari solusi karena masalah berikutnya adalah keberadaan kapal-kapal tanker raksasa yang saat ini tersebar ribuan mil jauhnya dari Teluk Persia untuk menghindari zona konflik.

Menurut analisis terkini Aljazeera, diperlukan waktu berminggu-minggu bagi kapal-kapal ini untuk kembali ke pelabuhan muat dan mengangkut jutaan barel minyak yang saat ini tersimpan di tangki-tangki penyimpanan darat.

Di sisi produksi, masalah teknis jauh lebih rumit karena banyak produsen minyak terpaksa menutup sumur-sumur mereka akibat tangki penyimpanan di darat sudah penuh dan kapal tanker tidak bisa mengangkut muatan.

Menghidupkan kembali sumur minyak yang telah ditutup tidak semudah membalikkan sakelar lampu karena proses ini memerlukan biaya operasional tinggi dan keahlian teknis kompleks.

Para ekonom dan ahli pertanian memberikan peringatan kritis bahwa dampak kenaikan biaya energi terhadap harga bahan pangan diperkirakan akan tetap terasa sepanjang tahun 2026 hingga 2027.

Selain itu, kerusakan pada fasilitas infrastruktur energi di Teluk yang terkena serangan udara akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki sepenuhnya.

Data pelayaran dari perusahaan analitik komoditas Kpler menunjukkan betapa masifnya dampak perang terhadap arus ekspor negara-negara Teluk.

Gabungan ekspor dari Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) merosot tajam dari 469 juta barel pada Februari menjadi hanya 263 juta barel pada Maret.

Penurunan sebesar 206 juta barel atau sekitar 44 persen ini mencerminkan betapa besar guncangan yang terjadi pada rantai pasok global.

Irak menjadi negara yang paling menderita dengan penurunan ekspor hingga 82 persen, menyisakan hanya 17 juta barel pada bulan Maret.

Kuwait dan Qatar kehilangan sekitar tiga perempat pengiriman minyak mentah mereka, masing-masing turun 75 persen dan 70 persen.

Arab Saudi dan UEA relatif lebih mampu bertahan dengan penurunan masing-masing 34 persen dan 26 persen karena pemanfaatan penyimpanan terapung dan keberadaan jaringan pipa darat.

Oman menjadi satu-satunya negara yang justru mencatatkan kenaikan ekspor sebesar 16 persen menjadi 29 juta barel karena mayoritas pelabuhannya berada di luar Selat Hormuz.

Aljazeera menggambarkan ukuran dari 206 juta barel minyak yang hilang tersebut setara dengan kapasitas muat 103 unit kapal VLCC.

Satu unit kapal VLCC memiliki panjang sekitar 330 meter atau lebih tinggi dari Gama Tower dan mampu mengangkut dua juta barel minyak mentah sekali jalan.

Satu barel minyak mentah rata-rata dapat menghasilkan sekitar 73 liter bensin setelah melalui proses pemurnian untuk menggerakkan kendaraan.

Dengan hilangnya 206 juta barel dari pasar dunia, defisit energi ini telah menciptakan lubang besar dalam rantai pasok global yang akan memerlukan waktu lama untuk ditambal.

Di tengah optimisme semu gencatan senjata, dunia kini menanti hasil negosiasi di Islamabad karena jika kesepakatan permanen tidak tercapai dalam 14 hari, krisis energi yang lebih dalam bukan lagi sekadar prediksi melainkan keniscayaan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung