Berita, Timur Tengah

Gempuran Hizbullah ke Markas Militer Israel Tewaskan 18 IDF, Banyak Masih Terperangkap Reruntuhan

Repelita.net

10 April 2026 23:12 WIB • 946 view

Gempuran Hizbullah ke Markas Militer Israel Tewaskan 18 IDF, Banyak Masih Terperangkap Reruntuhan
Foto: Istimewa

Repelita Beirut - Darah kembali mengalir di medan perang Lebanon setelah setidaknya 18 tentara Israel (IDF) tewas akibat serangan rudal Hizbullah terhadap beberapa markas militer Israel dalam pembalasan terbarunya.

Seorang perwira militer berpangkat tinggi ikut tewas dalam serangan ini, sementara banyak tentara lainnya masih terperangkap di antara reruntuhan bangunan markas yang hancur.

ADVERTISEMENT

Serangan balasan ini terjadi hanya sehari setelah Israel melancarkan operasi terbesarnya di Lebanon sejak perang dimulai pada 2 Maret 2026.

Pada Rabu (8/4/2026), Israel menjatuhkan lebih dari 160 bom dalam waktu 10 menit ke berbagai target di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

Hizbullah mengonfirmasi bahwa mereka meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

"Hingga serangan Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti, respons ini akan terus berlanjut," demikian pernyataan resmi kelompok tersebut.

Sumber militer Israel mengkonfirmasi bahwa beberapa markas militer di dekat perbatasan utara terkena serangan rudal presisi yang diluncurkan dari wilayah Lebanon.

Tim penyelamat IDF masih berupaya mengevakuasi tentara yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan markas yang hancur total akibat serangan.

Sebelumnya, pada Selasa (7/4/2026), seorang tentara IDF telah tewas dalam baku tembak dengan militan Hizbullah di Lebanon selatan.

Sersan Pertama Touvel Yosef Lifshiz, 20 tahun, dari Beit Shean, menjadi korban ke-12 sejak permusuhan kembali pecah.

Yang membuat situasi ini begitu kompleks adalah timing serangan balasan Hizbullah yang terjadi hanya dua hari setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua pekan.

Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.

"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh, dan kami tidak akan berhenti," ujar Netanyahu dalam video yang diunggah ke media sosial.

Pernyataan ini langsung menuai kecaman internasional, dengan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan bahwa serangan Israel sudah jelas salah.

Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide memperingatkan bahwa tindakan Israel berisiko merusak stabilitas regional yang lebih luas.

Iran bereaksi keras terhadap serangan Israel ke Lebanon dengan mengancam akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS.

"Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di media sosial X.

Araghchi menambahkan bahwa dunia melihat pembantaian di Lebanon, dan bola sekarang ada di tangan Amerika.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon termasuk di antara 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington.

Sebagai bentuk tekanan tambahan, Iran telah menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz setelah serangan Israel ke Lebanon.

Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan tiba di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2026) untuk memimpin delegasi AS dalam negosiasi dengan Iran.

Namun diplomat Iran mengatakan mereka tidak akan hadir jika gencatan senjata tidak diperluas ke wilayah Lebanon.

Iran juga mengumumkan bahwa mereka akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru yang ditafsirkan sebagai pembatasan lebih ketat.

Presiden AS Donald Trump merespons dengan kemarahan di media sosial, menyebut Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk.

Krisis kemanusiaan di Lebanon semakin parah dengan korban tewas akibat serangan Israel mencapai 303 orang dan 1.150 luka-luka.

Sejak konflik meningkat, total korban tewas di Lebanon telah mencapai 1.888 orang dengan jumlah luka-luka mencapai 6.092 jiwa.

Lebih dari satu juta orang telah terusir dari rumah mereka, banyak dari selatan Lebanon dan pinggiran selatan Beirut.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Volker Turk mengecam keras serangan tersebut sebagai pembantaian yang sungguh mengerikan.

Netanyahu kemudian mengumumkan bahwa ia telah menginstruksikan kabinetnya untuk memulai perundingan langsung dengan Lebanon.

Namun seorang anggota parlemen Hizbullah dengan tegas menolak negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan Lebanon akan mengajukan pengaduan mendesak ke Dewan Keamanan PBB.

Para analis melihat situasi ini sebagai kebuntuan yang sangat berbahaya karena Netanyahu bersikeras melanjutkan kampanye militer.

Sementara itu Iran mengancam akan menarik diri dari gencatan senjata jika Lebanon tidak dilindungi.

Jika Iran benar-benar keluar dari kesepakatan, maka perang skala penuh antara AS dan Iran bisa kembali meletus.

Konsekuensinya bukan hanya korban jiwa yang jauh lebih besar tetapi juga potensi krisis energi global.

Menteri Luar Negeri RI juga mengecam keras serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok





TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung