Berita, Timur Tengah

Gelombang ke-84, Iran Klaim Tenggelamkan Tiga Kapal Perang AS di Teluk dan Serang Hotel Perwira di Dubai

Repelita.net

28 March 2026 09:10 WIB • 1,126 view

Gelombang ke-84, Iran Klaim Tenggelamkan Tiga Kapal Perang AS di Teluk dan Serang Hotel Perwira di Dubai
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Gelombang konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru yang lebih berdarah setelah Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengumumkan peluncuran gelombang ke-84 dari Operasi Janji Sejati 4 dengan kode suci Ya Man Huwa Shadid al-Iqab.

Operasi yang didedikasikan untuk para seniman serta selebriti yang mendukung Revolusi Iran ini dilakukan melalui serangan gabungan Angkatan Laut Republik Islam terhadap pasukan Amerika di dua lokasi strategis yaitu pelabuhan Al-Shuyukh serta pantai dan pelabuhan Dubai.

ADVERTISEMENT

Humas IRGC dalam pernyataan resminya mengklaim bahwa serangan menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah tipe Qadr-380 ini berhasil menargetkan enam kapal tempur LCU atau Landing Craft Utility milik Amerika Serikat di pelabuhan Al-Shuyukh.

Menurut laporan lapangan yang dirilis IRGC, tiga kapal perang Amerika Serikat tersebut tenggelam setelah terkena serangan langsung, sementara tiga kapal lainnya mengalami kerusakan parah dan terbakar di lokasi kejadian.

Sesuai laporan lapangan, tiga kapal tempur tersebut tenggelam setelah terkena serangan, dan sisanya terbakar, demikian bunyi pernyataan resmi IRGC yang dikutip oleh media regional pada Jumat, 27 Maret 2026.

LCU atau Landing Craft Utility merupakan jenis kapal pendarat taktis yang biasa digunakan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mengangkut pasukan, kendaraan, dan peralatan berat dari kapal induk menuju daratan.

Kehilangan enam unit kapal pendarat sekaligus, jika klaim ini terbukti benar, akan menjadi pukulan signifikan bagi kemampuan proyeksi kekuatan Amerika Serikat di kawasan Teluk yang selama ini menjadi basis militer utama.

Tak hanya serangan rudal ke kapal perang, IRGC juga mengklaim melakukan operasi drone terhadap pusat-pusat perkumpulan perwira teroris Amerika yang berada di dua lokasi yaitu unit drone di pesisir dan salah satu hotel di Dubai.

IRGC menyebut menggunakan drone perusak yang berhasil menghantam target dengan tepat, sehingga selama operasi ini selain tenggelamnya kapal-kapal taktis, sejumlah besar teroris Amerika juga tewas.

Laporan dari media regional menambahkan bahwa serangan terhadap hotel di Dubai ini merupakan bagian dari strategi Iran untuk menjangkau target-target yang sebelumnya dianggap aman dari jangkauan rudal Teheran.

Dalam pernyataan penutupnya, IRGC mengirim pesan tegas kepada Amerika Serikat bahwa ke mana pun mereka pergi, Iran akan mengejar dan mereka akan sengsara menghadapi perlawanan yang terus meningkat.

Angkatan Laut IRGC, dengan izin Tuhan, dengan kendali dan kesadaran penuh, akan menanggapi kejahatan musuh dengan tegas, demikian pernyataan resmi IRGC yang mengakhiri pengumuman gelombang serangan ke-84.

Gelombang ke-84 Operasi Janji Sejati 4 ternyata tidak hanya menyasar Dubai dan Al-Shuyukh, karena media Al Mayadeen melaporkan bahwa serangan juga dilakukan terhadap target Amerika Serikat di Kuwait dan Arab Saudi.

Sebagai bagian dari gelombang ke-84, Angkatan Laut IRGC melancarkan serangan mendadak terhadap beberapa pos perkumpulan teroris Zionis dan Amerika di Pulau Bubiyan, Kuwait, dengan menggunakan kombinasi rudal dan drone.

Akibat serangan ini, sejumlah besar personel Marinir Amerika Serikat diklaim tewas atau terluka, dan para korban dievakuasi ke tiga rumah sakit yaitu Saleh Al-Sabah, Mohammad Al-Ahmad, dan Ali Al-Salem yang kemudian diterapkan lockdown total.

Sumber lapangan menyebutkan bahwa ketiga rumah sakit tersebut membatasi akses pasien Kuwait untuk sementara waktu sambil merawat korban luka, sebuah kondisi yang memicu protes di kalangan penduduk setempat.

IRGC juga mengklaim telah menghancurkan dan merusak secara signifikan beberapa pesawat pengisian bahan bakar udara atau aerial refueling aircraft milik Amerika Serikat serta markas dukungan logistik di Pangkalan Al-Kharj, Arab Saudi.

Pangkalan Al-Kharj dikenal sebagai salah satu pangkalan udara utama Amerika Serikat di Arab Saudi yang digunakan untuk operasi logistik dan pengisian bahan bakar di udara, sehingga jika benar rusak akan mengganggu rantai pasokan militer AS.

Seperti biasa dalam konflik ini, klaim Iran dan pernyataan resmi Amerika Serikat selalu berada di dua kutub yang berseberangan, dan hingga berita ini diturunkan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM belum merilis pernyataan resmi.

Pengamat militer mencatat bahwa pola ini konsisten sepanjang konflik, di mana sejak awal perang pada 28 Februari 2026, Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam perang informasi yang intens di tengah eskalasi militer di lapangan.

Sebelumnya pada awal Maret 2026, IRGC mengklaim telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone yang menyasar target-target milik Amerika Serikat dan Israel, dengan klaim bahwa 560 tentara Amerika Serikat tewas atau terluka.

Bahkan Iran sempat mengklaim telah berhasil menghantam kapal induk USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik, sebuah klaim yang langsung dibantah keras oleh CENTCOM dengan menyebutnya sebagai kebohongan belaka.

Sementara itu, Amerika Serikat melalui CENTCOM secara konsisten membantah klaim-klaim Iran, bahkan pada 1 Maret 2026 CENTCOM menulis satu kata di akun media sosial mereka menanggapi klaim Iran yaitu LIE atau bohong.

Militer Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan dan armada tetap beroperasi penuh di kawasan Timur Tengah.

Meski ada perbedaan klaim soal korban militer, satu fakta yang tak terbantahkan adalah bahwa warga sipil di kedua sisi menjadi korban, dengan laporan bahwa Dubai International Airport dan Kuwait International Airport pernah menjadi sasaran serangan.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa tiga orang tewas dan 94 lainnya terluka akibat serangan Iran hingga awal Maret, menunjukkan dampak nyata konflik terhadap infrastruktur sipil.

Di tengah eskalasi ini, juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini secara terbuka menantang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pernyataan terkait kemampuan angkatan laut Iran.

Bukankah Trump mengatakan bahwa dia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran, jadi jika dia berani, dia bisa mengirim kapal-kapalnya ke wilayah Teluk Persia, demikian tantangan Naini kepada presiden Amerika Serikat.

Naini juga menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Angkatan Laut IRGC dan Iran memiliki kedaulatan penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Pernyataan ini muncul setelah Trump sebelumnya mengklaim bahwa kemampuan angkatan laut Iran telah dilumpuhkan oleh serangan Amerika Serikat dalam konflik yang berlangsung.

Operasi Janji Sejati 4 sendiri merupakan serangkaian serangan balasan Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.

Sejak saat itu, Iran secara bertahap meningkatkan intensitas serangan dari gelombang awal yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Irak dan Suriah, kini serangan telah menjangkau Dubai, Kuwait, dan Arab Saudi.

Gelombang ke-84 ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mampu menyerang target militer tetapi juga target logistik dan komersial di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat.

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Uni Emirat Arab atau Kuwait terkait klaim serangan di wilayah mereka, namun insiden ini berpotensi memicu respons diplomatik dan militer lebih lanjut.

Sementara itu, Amerika Serikat terus mempertahankan kehadiran militernya di kawasan, dengan CENTCOM mengonfirmasi enam personel AS telah tewas dalam konflik ini hingga awal Maret.

Trump sendiri sebelumnya menyebut perang dengan Iran akan berlangsung sekitar empat minggu, waktu yang kini hampir terlewati, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir.

Klaim IRGC tentang tenggelamnya enam kapal LCU Amerika Serikat dan tewasnya sejumlah besar tentara Amerika di Dubai dan Kuwait masih harus dibuktikan di tengah perang informasi yang berlangsung.

Sejarah perang informasi dalam konflik ini menunjukkan bahwa Iran cenderung membesar-besarkan klaim kemenangan mereka, sementara Amerika Serikat cenderung meremehkan dampak serangan Iran terhadap aset-aset mereka.

Namun yang jelas, gelombang ke-84 Operasi Janji Sejati 4 membawa pesan yang tidak bisa diabaikan bahwa Iran mampu dan siap menyerang target-target Amerika di jantung kawasan Teluk.

Dengan motto ke mana pun kalian pergi, kami akan mengejar kalian, Iran menegaskan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi pasukan Amerika di Timur Tengah selama perang ini berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung