Repelita [Jakarta] - Kondisi ekonomi Indonesia mendapat sorotan keras dari seorang investor asing yang melontarkan kritik melalui sebuah forum diskusi.
Investor tersebut menilai bahwa pasar tanah air saat ini hanya diposisikan sebagai lokasi distribusi produk luar negeri semata.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, minimnya inovasi dan ketiadaan orisinalitas menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih substantif.
Uangnya tidak ada di bisnis yang nyata, ujaran investor tersebut dalam rekaman video yang kini tersebar luas.
Pandangan ini sejalan dengan kegelisahan masyarakat mengenai nasib para pakar dan peneliti berbakat milik bangsa yang kurang mendapat apresiasi.
Banyak ilmuwan kelas dunia asal Indonesia justru kurang mendapat dukungan saat berkarya di negerinya sendiri.
Pernyataan tersebut diumumkan melalui akun LinkedInhttps://www.linkedin.com/posts/ips-indonesia-402b6b84_banyak-ahli-ahli-dan-penemu-kelas-dunia-asal-ugcPost-7475937511450566656-z9PM/pada 27 Juni 2026.
Dalam unggahan pesan tertulis tersebut sebagai berikut.
Banyak ahli ahli dan penemu kelas dunia asal Indonesia malah tak di hargai di negeri sendiri.
Ricky Elson, Dasep Ahmadi, Prof. Dr. Khoirul Anwar, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Prof. Ken Soetanto dan masih banyak lagi.
Kritik tajam investor tersebut menyimpulkan bahwa Indonesia terjebak dalam pola perdagangan yang tidak melibatkan pengembangan teknologi mandiri.
Investor ini bilang Indonesia itu cuman negeri distributor [Kagak ada inovasinya].
Kurangnya ekosistem untuk menampung gagasan para ahli dinilai sebagai penyebab utama tertinggalnya daya saing inovasi dalam negeri.
Fenomena ini memicu diskusi publik mengenai pentingnya memberikan ruang bagi talenta lokal untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok