Repelita Washington DC - Gedung Putih kian terpojok setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dicecar habis-habisan oleh Kongres dalam dua hari berturut-turut terkait perang melawan Iran .
Sidang dengar pendapat yang berlangsung di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR dan Senat AS pada Rabu (29/4/2026) dan Kamis (30/4/2026) menjadi pertama kalinya bagi Hegseth memberi kesaksian publik sejak perang dimulai tanpa persetujuan Kongres .
ADVERTISEMENT
Dalam pernyataan pembukaannya, Hegseth justru menyerang balik para kritikus perang dan menyebut musuh terbesar Amerika saat ini bukanlah Iran, melainkan kata-kata pesimistis dari anggota Kongres Demokrat dan beberapa Republikan .
"Seperti yang saya katakan kemarin, dan akan saya katakan lagi hari ini, musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah para penentang yang gegabah dan kata-kata pesimistis dari anggota Kongres Demokrat dan beberapa Republikan," kata Hegseth dengan nada tegas .
Para senator dari Partai Demokrat mempertanyakan strategi perang yang dinilai tidak memiliki tujuan jelas serta membebani anggaran negara hingga miliaran dolar.
Senator Jack Reed, anggota Komite Angkatan Bersenjata dari Partai Demokrat, menyatakan bahwa perang dengan Iran justru membuat Amerika berada dalam posisi strategis yang lebih buruk .
"Saya khawatir Anda telah memberi tahu presiden apa yang ingin dia dengar, alih-alih apa yang perlu dia dengar," ujar Reed mengkritik Hegseth .
Pentagon melaporkan bahwa perang sejauh ini telah menghabiskan biaya sekitar 25 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp428 triliun, sebagian besar untuk amunisi dan penggantian peralatan militer .
Para anggota parlemen menyoroti kontradiksi antara klaim keberhasilan militer dengan kenyataan bahwa Selat Hormuz masih ditutup dan Iran masih memiliki kemampuan tempur yang signifikan .
Jika infrastruktur nuklir Iran sudah hancur total seperti klaim sebelumnya, mengapa anggaran perang terus membengkak dan ancaman tetap dijadikan alasan untuk eskalasi baru demikian pertanyaan tajam dari anggota Kongres .
Ketegangan memuncak ketika Demokrat menyebut keterlibatan militer AS di Timur Tengah sebagai quagmire atau jebakan perang berkepanjangan, sebuah istilah yang memicu reaksi keras dari Hegseth dalam sidang .
"Anda menyebutnya quagmire, menyerahkan propaganda kepada musuh-musuh kita? Shame on you for that statement," kata Hegseth membalas kritik seorang anggota Kongres .
Sidang juga menyoroti insiden pengeboman sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari 165 orang, termasuk puluhan anak-anak.
Hegseth menyebut insiden tersebut sebagai "situasi yang tidak menguntungkan" yang masih dalam penyelidikan mendalam, namun ia tidak memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaan mengapa staf perlindungan sipil dikurangi 90 persen .
Batas waktu 60 hari berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Perang atau War Powers Resolution akan berakhir pada Jumat (1/5/2026), yang mewajibkan presiden mendapatkan izin Kongres untuk melanjutkan operasi militer .
Pemerintahan Trump berargumen bahwa gencatan senjata yang berlaku efektif menghentikan perang sehingga hitungan waktu tersebut tak lagi relevan, sebuah tafsir yang menuai kontroversi dari para ahli hukum.
Sebaliknya, Kongres menghadapi tekanan dari berbagai pihak untuk memberikan otorisasi atau menghentikan konflik yang telah menewaskan sedikitnya 14 personel militer Amerika Serikat sejauh ini .
Sidang dengar pendapat ini menjadi ajang tarik-menarik antara eksekutif dan legislatif yang memperlihatkan ketegangan politik di Washington di tengah konflik yang belum menemukan titik terang .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok