Berita, Nasional

G30S Meletus, Bung Karno Perintahkan Baby Huwae Temani Ratna Sari Dewi Mengungsi ke Swiss

Repelita.net

06 September 2026 21:17 WIB • 447 view

G30S Meletus, Bung Karno Perintahkan Baby Huwae Temani Ratna Sari Dewi Mengungsi ke Swiss
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Saat situasi politik Indonesia memasuki masa genting menjelang meletusnya Gerakan 30 September 1965, Baby Huwae dan suaminya sedang menghadiri sebuah perayaan di kediaman Chaerul Saleh.

Di tengah acara tersebut, Baby mendengar selentingan dari para ajudan Chaerul mengenai suara tembakan yang disebut berasal dari arah kediaman Leimena.

ADVERTISEMENT

Baby tidak mencari tahu lebih jauh karena informasi tersebut didengarnya secara samar dan belum diketahui kebenaran maupun konteks sebenarnya.

“Yang pasti, malam itu para ajudan tersebut tak berani meninggalkan rumah Chaerul. Takut kalau terjadi sesuatu yang tak di inginkan,” kata Baby, sebagaimana dikisahkan dalam Tabloid NOVA edisi 4 Desember 1988.

Dalam perjalanan pulang, Baby bersama suaminya sempat melintasi kediaman AH Nasution dan Leimena, tetapi kawasan tersebut sudah terlihat sepi.

Karena tidak menemukan keadaan yang mencurigakan di sepanjang perjalanan, keduanya kemudian memilih meneruskan perjalanan menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Baby tiba-tiba teringat ingin mengunjungi Ratna Sari Dewi atau Dewi Soekarno yang tinggal di Wisma Yaso.

Namun keinginan itu batal dilakukan karena tubuh Baby sudah terasa lelah dan lesu setelah menghadiri acara sebelumnya.

Tidak lama setelah berada di rumah, telepon berdering dan panggilan tersebut ternyata berasal dari BK yang menanyakan keberadaan Dewi.

“Aku tak tahu-menahu,” jawab Baby.

BK kembali memastikan keberadaan Dewi dengan bertanya, “Bukankah Dewi pergi dengan kau?”

Baby menjelaskan bahwa dirinya memang bepergian pada malam tersebut, tetapi tidak bersama Dewi.

Kebetulan Suparto, ajudan BK, sedang berada di rumah Baby sehingga dia menyarankan agar pertanyaan mengenai Dewi disampaikan kepada pria tersebut.

“Kusarankan BK menanyakan soal Dewi padanya. Benar saja, Mas Parto tahu di mana Dewi: di kelab malam Nirwana.”

“Konon Dewi tengah menghadiri acara bersama rombongan Dubes turki, Italia, Belanda, dan tamu kehormatan lain,” tambah Baby.

BK kemudian meminta Baby menjemput Dewi karena menurutnya tempat tersebut bukan lokasi yang baik untuknya.

“Nirwana itu kan tempat kurang baik,” ujar BK.

Dalam keadaan mengantuk dan tubuh yang masih lelah, Baby bersama Parto akhirnya berangkat menyusul Dewi ke Hotel Indonesia.

Di tengah perjalanan, Baby bahkan meragukan kemungkinan Dewi bersedia pulang karena sedang menikmati suasana di lantai dansa.

“Mana mungkin Dewi mau pulang kalau sedang asyik melantai,” katanya kepada Parto.

Sesampainya di lokasi, dugaan Baby ternyata terbukti karena Dewi masih enggan meninggalkan tempat tersebut meskipun sudah dibujuk.

Tidak lama kemudian, BK juga datang ke Hotel Indonesia, tetapi memilih tetap menunggu di dalam mobil dan meminta Baby kembali berbicara kepada Dewi.

“Katakan pada Dewi, kalau dia tak mau keluar dari kelab malam itu, aku sendiri yang akan menyusul ke dalam,” ujar BK.

Setelah mendengar pesan tersebut, Dewi akhirnya bersedia pulang dan Baby bersama Parto kemudian sempat mengantarnya ke Wisma Yaso.

Sementara itu, BK memilih langsung kembali ke Istana Negara setelah memastikan Dewi meninggalkan tempat tersebut.

Keesokan harinya, telepon kembali berdering sejak pagi dan Baby menerima permintaan BK agar datang ke istana pada pukul 19.30.

Baby menduga pertemuan tersebut mungkin berkaitan dengan teguran yang akan diterimanya dari BK, sehingga dia kemudian berangkat menuju Istana di Jalan Merdeka Utara.

Saat itu Baby mengendarai mobilnya sendiri, Mercedes dengan nomor B 5 L, tanpa mengetahui bahwa situasi di sekitar istana telah berubah drastis.

Setibanya di depan istana, Baby melihat penjagaan militer dalam jumlah banyak yang membentuk blokade di sekitar kawasan tersebut.

Kawat berduri juga terlihat dipasang sebagai penghalang, sementara akses menuju kompleks istana dijaga secara ketat oleh tentara.

Karena sudah terbiasa keluar masuk istana, Baby mengetahui sejumlah jalur yang biasanya dapat digunakan untuk masuk.

Namun pada saat itu, hampir seluruh akses terlihat tertutup, baik karena penjagaan tentara maupun keberadaan kawat berduri.

Baby kemudian mencoba mendatangi pintu utama dan saat itulah dirinya dihentikan oleh sejumlah tentara yang mempertanyakan tujuannya.

“Mau kemana?”

“Saya mau ketemu Bapak. Bapak minta saya menghadap jam 07.30 pagi ini.”

Baby tetap berusaha menjelaskan bahwa dirinya datang karena mendapat perintah untuk menghadap BK dan menunjukkan kartu tanda masuk istana.

“Aku harus ketemu BK karena diminta menghadap,” katanya tak kalah keras sambil menunjukkan kartu tanda masuk istana.

Namun para tentara tersebut justru semakin keras meminta Baby meninggalkan lokasi karena mereka mengatakan Presiden tidak berada di tempat.

“Cepat angkat kaki dari sini! Presiden tidak ada di sini. Pergi!” perintah mereka sambil mengusir Baby.

Mobil Baby bahkan ditendang-tendang agar perempuan tersebut segera meninggalkan kawasan istana.

Merasa diperlakukan kasar tanpa mengetahui alasan sebenarnya, Baby kemudian mengarahkan mobilnya menuju Wisma Yaso.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi pertanyaan mengenai keadaan yang sebenarnya sedang berlangsung di sekitar istana.

Sesampainya di Wisma Yaso, Baby mendapati Dewi masih tertidur sehingga dia langsung membangunkan sahabatnya tersebut.

“Dewi, Dewi, bangun!”

Dewi yang masih mengantuk justru merasa terganggu karena kedatangan Baby yang menurutnya terlalu mengagetkan.

“Kenapa sih datang-datang seperti angin ribut? Aku masih capek. Masih ngantuk,” katanya bersiap memejamkan mata lagi.

Baby kembali menggoyangkan tubuh Dewi sambil memberitahukan kondisi yang baru saja dialaminya di sekitar istana.

“Dewi! Kau tahu? Sekarang banyak tentara berjaga-jaga di istana. Mereka mengusir dan memakiku secara kasar. Kamu jangan tidur saja!” seru Baby.

Mendengar penjelasan tersebut, Dewi langsung terbangun dan menunjukkan keterkejutan atas tindakan para tentara di sekitar istana.

“Kok ada tentara yang tabiatnya seperti itu?” tanyanya.

Baby kemudian menyampaikan pengamatannya mengenai seragam pasukan yang dilihatnya ketika berada di depan istana.

“Tapi dari seragam yang mereka kenakan, sepertinya mereka bukan dan Cakrabirawa. Mereka berbaret biru.”

Dewi segera mengambil telepon dan berusaha menghubungi istana melalui berbagai nomor yang diketahui Baby.

Bahkan nomor telepon dapur istana turut dicoba, tetapi seluruh sambungan menuju istana ternyata sudah tidak dapat digunakan.

Dalam keadaan panik, Dewi kemudian berusaha menghubungi sejumlah kenalannya, tetapi tidak satu pun orang yang dicari berhasil ditemui.

“Ada yang tak beres,” katanya kemudian.

Baby selanjutnya mencoba menghubungi Sekretariat Negara untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan BK.

Dari sana Baby mendapat jawaban bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan BK dan mengakui memang terdapat sesuatu yang sedang berlangsung.

Karena hari semakin larut, Baby akhirnya pulang dan keesokan harinya kembali mendatangi Wisma Yaso untuk menemui Dewi.

“Dewi, rasanya sesuatu yang tak beres tengah terjadi. Sekarang ini BK tak ada di mana-mana. Dan aku tak tahu, di mana sebenarnya Bapak berada,” ujar Baby dengan perasaan takut serta gelisah.

Dewi pun semakin cemas karena keberadaan suaminya tidak diketahui.

“Ya Tuhan, ke mana saya harus mencarinya?”

Baby mengatakan kepada Dewi bahwa sebagai istri BK, Dewi memiliki tugas untuk mencari tahu keberadaan suaminya.

Namun menurut Baby, Dewi hanya terdiam dan terlihat panik karena tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan dalam situasi tersebut.

Hari-hari berikutnya dilalui Baby dan Dewi dengan kegelisahan karena keduanya terus memikirkan keselamatan BK di tengah situasi politik yang semakin tidak menentu.

Beberapa hari kemudian, keduanya menerima undangan makan malam dari seorang pengusaha Amerika bernama Mr Coo yang tinggal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pria keturunan Polandia-Yahudi tersebut mengadakan jamuan makan malam dan mengundang Dewi untuk hadir dalam acara tersebut.

"Dewi," kata Baby, "Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kita tak pergi. Lagi pula, kita toh belum dapat kabar tentang di mana BK berada."

Namun Dewi memiliki pertimbangan berbeda dan menilai acara tersebut mungkin justru dapat memberikan informasi mengenai keberadaan BK.

Menurut Dewi, kehadiran mereka dalam jamuan itu berpeluang membuka akses terhadap informasi yang sedang mereka cari.

Akhirnya Baby dan Dewi tetap memenuhi undangan tersebut meskipun kondisi di sekitar mereka sedang diliputi ketidakpastian.

Sepulang dari acara makan malam, Dewi mengalami keracunan dan malam itu juga mendapatkan perawatan dari Dokter Rubiyono bersama asistennya dari RSPAD.

Baby tidak mengetahui kejadian tersebut secara langsung karena setelah jamuan selesai dia langsung pulang ke rumah.

Baru setelah itu Baby mengetahui keadaan Dewi dan nekat datang ke Wisma Yaso meskipun ketika itu jam malam telah diberlakukan.

Saat berada di sana, Baby duduk termenung sambil mengarahkan pandangannya ke pintu karena suasana rumah dalam keadaan remang-remang.

Tiba-tiba dia melihat seseorang berjalan mendekat, tetapi Baby belum dapat mengenali sosok tersebut karena kondisi pencahayaan yang minim.

Setelah sosok itu semakin dekat, Baby akhirnya menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah Bung Karno.

Saat itu BK hanya mengenakan kaos oblong tanpa peci maupun pakaian kebesaran yang biasanya dikenakannya.

Karena penampilannya tersebut, Baby tidak langsung mengenali BK ketika melihatnya dari kejauhan.

“Bapak, ya?” tanya Baby memberanikan diri.

“Siapa itu? Lokita, ya?” sahut pria itu – Lokita adalah nama pemberian Bung Karno kepada Baby Huwae.

Baby kemudian membenarkan bahwa dirinya adalah orang yang dipanggil dengan nama tersebut.

BK lantas menanyakan kepergian Baby dan Dewi pada malam sebelumnya serta alasan Dewi sampai mengalami keracunan.

BK juga mempertanyakan keberadaan Baby di Wisma Yaso ketika jam malam sudah diberlakukan.

“Sedang menunggui Dewi, Pak,” jawab Baby.

Dalam percakapan tersebut, Baby justru balik mempertanyakan keberanian BK keluar pada malam hari dalam keadaan situasi yang tidak aman.

“Apakah Bapak tak takut keluar malam-malam seperti sekarang ini? Atau bapak membawa pusaka? Maksud saya, memiliki suatu pegangan?” tanya Baby ketika berhadap-hadapan dengan BK.

“Saya tak setuju dan tak suka kalau kita mengandalkan suatu kekuatan atau perlindungan dari benda. Tidak!” jawab BK tenang tapi tegas, seraya bertanya kepada Baby kenapa dia juga tak takut malam-malam nyetir sendiri.

Baby kemudian menjelaskan alasan dirinya berada di tempat tersebut.

“Aku hanya ingin menengok Ibu Dewi, Pak.”

Sebelum masuk ke ruangan tempat Dewi dirawat, BK sempat menyampaikan penghargaan kepada Baby.

“Lokita, saya menghargaimu.”

Setelah beberapa saat berada di dalam ruangan, BK kembali keluar dan mendapati Baby masih berada di tempat semula.

“Kau belum pulang juga?” tanya kepada Baby karena masih duduk di situ.

Baby menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin pulang karena jam malam sedang berlaku.

Percakapan keduanya kemudian berlangsung cukup panjang dan dari pembicaraan itu Baby mengetahui bahwa selama masa tersebut BK berada di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusumah.

Dalam suasana percakapan yang mengalir ke berbagai persoalan, Baby kemudian memberanikan diri menanyakan sikap BK terhadap PKI.

“Kenapa Bapak tidak membubarkan PKI saja?”

Pertanyaan tersebut membuat suasana berubah karena BK terlihat marah dan menanggapi pertanyaan Baby dengan nada tinggi.

“Lokita!” katanya geram, “Sebelum kau lahir, aku sudah berpolitik. Kenapa kau mengajariku untuk membubarkan PKI? Mengertikah kau apa PKI itu?”

Baby memilih diam setelah melihat reaksi BK dan menyadari bahwa dirinya memang tidak memahami persoalan politik secara mendalam.

Dia kemudian meminta maaf karena merasa pertanyaannya telah melewati batas dan menegaskan bahwa tidak ada maksud buruk di balik pertanyaan tersebut.

“Maaf, Pak. Saya mungkin terlalu lancang bertanya seperti itu. Tapi sungguh, Pak, saya tak punya maksud apa-apa,” katanya pelan.

Baby mengatakan bahwa dirinya hanya memikirkan keselamatan BK karena di tengah masyarakat beredar anggapan bahwa BK dapat menyelesaikan persoalan dengan membubarkan PKI.

Namun BK kembali menegaskan ketidaksukaannya jika dirinya diatur oleh perempuan.

“Lokita, dari mana kau tahu urusan politik? Saya paling tidak suka diatur perempuan!”

Baby kemudian menjelaskan sumber informasi yang membuatnya berani menyinggung persoalan tersebut.

“Saya tahu setelah baca koran tadi pagi, Pak.”

BK lalu menanyakan koran yang dibaca Baby.

“Koran yang mana?” desak BK.

“Koran tadi pagi, Pak. Saya membelinya di Jembatan Semanggi.”

Mendengar jawaban itu, BK kemudian menyebut koran yang dimaksud dengan sebutan tertentu.

“Oh... itu. Koran kuning itu.”

Setelah jeda singkat dalam percakapan, BK kembali menjelaskan pandangannya mengenai PKI dan persoalan ideologi.

"Dengarkan, Lokita! Sebagai presiden, bisa saja saya membubarkan PKI. Tapi sebagai presiden, saya tak bisa membubarkan suatu ideologi. Itu mustahil. Bahkan penjara pun, tak bisa menahan sebuah ideologi.”

Baby kembali terdiam sebelum BK melanjutkan penjelasannya mengenai cara menghadapi pihak yang dianggap sebagai musuh.

“Coba dengarkan aku baik-baik. Kalau kamu bikin musuh, kau menjaga agar musuh itu di hadapanmu. Dengan demikian kau bisa tahu, apa yang musuhmu perbuat.”

Untuk memperjelas maksudnya, BK kemudian menggunakan perumpamaan mengenai tikus dan rumah.

“Kuberi contoh lain. Misalnya untuk membunuh tikus, kau tak perlu membakar rumah. Kau tahu kenapa? Karena tikus-tikus itu bakal mencari rumah lain.”

Penjelasan tersebut justru membuat Baby semakin penasaran sehingga dia mengajukan pertanyaan lain kepada BK.

“Kalau begitu, Bapak juga PKI?”

BK terlihat sangat tersentak dan tersinggung mendengar pertanyaan tersebut.

“Saya orang Indonesia! Saya seorang yang nasionalis!”

Setelah menjawab pertanyaan itu, BK bangkit dan masuk ke kamar sehingga Baby ditinggalkan sendirian dalam keadaan terbengong-bengong.

Baby kemudian bertahan hingga pagi di beranda Wisma Yaso dan masih sempat melihat BK meninggalkan kediaman Dewi menuju Halim Perdana Kusumah.

Dewi kemudian dijemput oleh ajudannya untuk menyusul BK ke Halim Perdana Kusumah, tetapi keberadaannya di sana hanya berlangsung sebentar.

Tidak lama kemudian, Baby kembali melihat Dewi memasuki Wisma Yaso.

Pada hari-hari berikutnya, BK disebut hanya berpindah antara Istana Bogor dan Wisma Yaso serta memilih bertemu dengan orang-orang tertentu.

Dalam kondisi tersebut, Baby kerap berperan sebagai penghubung bagi orang-orang yang hendak menemui BK.

Mereka menyampaikan maksud kedatangan melalui Dewi, kemudian Dewi meneruskan informasi tersebut kepada BK sebelum keputusan untuk menerima tamu dibuat.

Setelah BK bersedia menerima, orang-orang yang berhasil bertemu dengannya terkadang memberikan berbagai macam cendera mata kepada Baby sebagai bentuk penghargaan atas bantuannya.

Baby sendiri mengaku tidak tertarik masuk terlalu jauh ke dalam urusan politik karena merasa tidak memiliki bakat di bidang tersebut.

Sebelumnya, dia bahkan pernah bertanya kepada BK mengenai organisasi yang sebaiknya diikuti karena pada masa itu banyak organisasi bermunculan dan para anggotanya mengenakan seragam.

“Jadi kau mau ikut organisasi apa?” tanya BK saat itu.

“Saya tak tahu, Pak. Tapi sebetulnya, saya kurang berhasrat,” jawa Baby.

BK kemudian memberikan pandangan bahwa Baby tidak perlu terlibat dalam organisasi dengan ruang lingkup kecil dan justru dapat mempertimbangkan kegiatan yang cakupannya lebih luas.

“Nah, itu betul! Tak perlu kau melibatkan diri dalam suatu organissi karena lingkungannya kecil. Kali kalau scope-nya nasional. Karena berarti kau memperjuangkan kepentingan negara,” BK menimpali.

Sejak percakapan tersebut, Baby mengurungkan niat untuk mengikuti kegiatan politik dan memilih menjalani kehidupannya di luar dunia organisasi.

Karena itu, ketika G30S terjadi, Baby mengaku hanya mengikuti perkembangan peristiwa tersebut melalui pemberitaan koran yang biasa dibelinya di Jembatan Semanggi.

Namun persoalan lain muncul ketika nama Baby kemudian ikut dimuat dalam pemberitaan yang menyebut dirinya memiliki hubungan intim dengan Jusuf Muda Dalam.

Tuduhan tersebut membuat Baby tersinggung karena dia menyatakan tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan pria tersebut.

“Justru aku pernah bertengkar dengannya gara-gara dia menyerobot rumah yang sudah kubeli,” katanya berang.

Persoalan itu bermula ketika Baby membeli sebuah rumah di Jalan Ir. Haji Juanda yang lokasinya berseberangan dengan Istana Negara.

Rumah tersebut dibeli Baby dengan harga Rp80 juta dan pada tahap awal dirinya membeli bagian lantai dasar.

“Mula-mula, lantai dasarnya yang kubeli,” katanya.

Ketika Baby kemudian bepergian ke luar negeri bersama Dewi, dia telah memberikan sejumlah uang muka kepada pemilik rumah sebagai tanda pengikat.

Setelah kembali dari luar negeri, Baby menemukan sejumlah barang berada di lantai atas bangunan tersebut dan disebut sebagai milik Jusuf Muda Dalam.

Merasa rumah yang dibelinya telah digunakan tanpa persetujuan, Baby kemudian marah dan melaporkan persoalan tersebut kepada BK.

Jusuf kemudian dipanggil ke istana dan setelah proses tersebut rumah yang dipermasalahkan akhirnya dikembalikan kepada Baby.

Setelah persoalan tersebut selesai, BK menanyakan lokasi rumah yang dimiliki Baby.

Baby kemudian menunjukkan posisi bangunan tersebut dari salah satu sudut ruangan melalui jendela.

BK melihat lokasi rumah itu dan memperingatkan Baby mengenai kemungkinan ancaman keamanan terhadap Istana Negara.

“Lokita, kau tak boleh membeli gedung seperti itu. Kalau ada orang jahat yang ingin mencelakakan saya, dia bisa dengan mudah naik ke genting lalu menembak ke Istana.”

Baby kemudian mempertanyakan alasan BK yang baru menyampaikan kekhawatiran tersebut setelah bangunan bertingkat itu berdiri.

Dia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan bangunan tersebut dapat menimbulkan persoalan keamanan.

“Saya tak berpikir sampai ke situ, Pak. Rencana saya, lantai atas untuk ruang istirahat sementara di bawah untuk berjualan pakaian. Jadi, kalau Bapak memerlukan saya sewaktu waktu, saya sudah tiba di Istana dalam waktu beberapa menit saja,” celetuknya.

Hubungan Baby dan Dewi tetap berjalan setelah berbagai kejadian tersebut, sementara BK juga beberapa kali mengunjungi Wisma Yaso dari Istana Bogor.

Pada periode tersebut, Dewi mulai mendapat perhatian dari wartawan asing, terutama karena dirinya pernah berinteraksi dengan pers luar negeri.

Dalam keadaan situasi politik yang semakin panas, BK kemudian memanggil Baby dan memintanya mendampingi Dewi ke Swiss.

"Lokita, tolong temani Dewi ke Swiss. Saya harap kau siap-siap. Akan kuatur, agar besok juga, kau dan Dewi terbang ke Swiss," katanya.

BK menjelaskan bahwa dirinya tidak menyukai Dewi diwawancarai oleh pers, terlebih keadaan politik ketika itu sedang memanas.

Baby menolak permintaan tersebut karena merasa sudah terlalu sering bepergian ke luar negeri dan ingin kembali berkonsentrasi mengurus rumah tangga.

“Saya mohon maaaf sebesar-besarnya, Pak. Saya tak mau lagi bepergian, ingin mengurus rumah tangga. Saya pun sudah capek bolak balik ke luar negeri.”

Namun BK tetap berusaha meyakinkan Baby agar bersedia menemani Dewi karena menurutnya hanya Baby yang dapat dipercaya untuk menjaga istrinya tersebut.

“Lokita, saya sangat sayang kepada Dewi. Saya ingin kau menemaninya. Dewi mau pergi asal kau yang menemani. Lagipula, hanya kau yang bisa kupercaya. Kau harus tahu, aku mencintai Dewi. Karena itu saya perintahkan kau ikut Dewi. Kalau Dewi di sini terus, dia akan terlibat politik,” BK tak mau menyerah.

BK kemudian meminta Baby memastikan Dewi berada dalam keadaan aman selama perjalanan tersebut.

“Tolong kau jaga dia baik-baik.”

Baby tetap mempertahankan penolakannya dengan alasan tidak mungkin meninggalkan keluarga dan menjalani kehidupan di negara lain.

Dia bahkan merasa apabila mengikuti Dewi ke Swiss, dirinya akan seperti orang yang diasingkan dari tanah kelahirannya.

“Saya tak mau, Pak. Biar bagaimanapun, saya dilahirkan di Indonesia.”

BK kembali menjelaskan bahwa permintaannya hanya agar Baby bersedia mengantar Dewi dan nantinya keduanya dapat dipanggil kembali ketika keadaan memungkinkan.

“Lokita, aku hanya minta kesediaanmu mengantar Dewi saja. Nanti, kalau sudah waktunya, kalian akan kupanggil pulang.”(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung