Berita, Nasional

Film Dokumenter Pesta Babi Tuai Polemik, Soroti Dugaan Deforestasi dan Konflik Tanah Adat Papua

Repelita.net

13 May 2026 13:28 WIB • 805 view

Film Dokumenter Pesta Babi Tuai Polemik, Soroti Dugaan Deforestasi dan Konflik Tanah Adat Papua
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gelombang polemik menyelimuti jagat maya setelah munculnya sebuah karya film dokumenter garapan sutradara ternama Dandy Laksono yang berjudul Pesta Babi.

Karya audio visual ini memicu perbincangan hangat lantaran menguliti kebijakan strategis nasional yang dinilai sarat akan pengaruh kelompok pemegang modal besar di tanah air.

ADVERTISEMENT

Kehadiran sinema tersebut memotret realitas pahit mengenai benturan kepentingan antara masyarakat adat dan korporasi raksasa yang bergerak di sektor agraria maupun pertambangan.

Informasi valid ini diulas secara mendalam melalui tayangan edukasi hukum dan politik pada akun YouTube resmi milik Advokat Ahmad Khozinudin, S.H. yang menegaskan bahwa fenomena pemblokiran tersebut mencerminkan kuatnya dominasi modal terhadap instrumen kekuasaan.

Film tersebut dilaporkan mengalami tindakan pembungkaman dan pembedelan di beberapa wilayah strategis seperti Yogyakarta, Mataram, hingga Ternate.

Berdasarkan rekaman informasi yang beredar, langkah penertiban yang melibatkan aparat keamanan negara itu dilakukan bukan karena kendala administratif formal dari lembaga sensor resmi.

Pemblokiran agenda pemutaran sinema dokumenter ini disinyalir kuat berhubungan erat dengan muatan kritik tajam yang mengusik kenyamanan operasional industri ekstraktif skala besar.

Narasi utama dalam dokumenter itu menyoroti bagaimana program ketahanan pangan nasional yang digembar-gemborkan otoritas eksekutif diduga kuat beralih fungsi.

Alih-alih mewujudkan kedaulatan logistik demi kemaslahatan publik, proyek food estate dituding menjadi kedok legalisasi penggundulan kawasan hutan lindung.

Dampak langsung dari pengerahan modal korporasi perkebunan kelapa sawit dan komoditas energi hayati tersebut memicu terjadinya deforestasi masif yang merugikan ekosistem purba.

Kondisi sosiologis masyarakat lokal semakin terpojok akibat adanya eskalasi operasi militer di wilayah pedalaman Papua yang berujung pada pengosongan paksa pemukiman tradisional.

Otoritas keamanan dituduh menjalankan fungsi sterilisasi area wilayah adat guna memastikan kedatangan alat-alat berat korporasi berjalan tanpa kendala resistensi sosial.

Akibatnya, kelompok penduduk asli terpaksa kehilangan ruang hidup dan pondasi mata pencaharian utama mereka yang telah dikelola secara turun-temurun.

Para pemirsa yang menyaksikan tayangan berdurasi penuh tersebut menumpahkan beragam keluh kesah serta pandangan emosional mereka melalui platform media sosial X.

Kebanyakan tanggapan bernada getir merefleksikan keprihatinan mendalam atas nasib tragis yang mendera saudara sebangsa di pulau paling timur Indonesia.

Fenomena perampasan hak atas tanah ulayat ini memicu desakan publik agar pemerintah segera mengevaluasi orientasi pembangunan nasional yang bias kapitalistik.

Salah satu kesaksian riil di dalam video tersebut mengonfirmasi kepanikan warga lokal saat unit armada angkut militer mulai merapat ke wilayah pesisir mereka.

Pernyataan otentik dari salah seorang penduduk setempat menggambarkan situasi mencekam itu secara langsung: "kami masyarakat setempat kami tidak tahu kami kaget pagi-pagi kapelabuhan kami ini hak kami di sini hak marga palai saya".

Ucapan spontan tersebut menjadi bukti otentik mengenai minimnya pelibatan serta sosialisasi persuasif kepada para pemilik sah tanah adat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung