Repelita Jakarta - Badan sepak bola tertinggi dunia tengah mengkaji rencana revolusioner untuk melakukan ekspansi massal terhadap jumlah kontestan putaran final Piala Dunia dua ribu tiga puluh menjadi enam puluh enam negara peserta.
Wacana penambahan slot bertanding tersebut menjadi angin segar yang diprediksi bakal memperlebar jalan serta memperbesar probabilitas tim nasional Indonesia untuk menembus panggung olahraga paling prestisius di planet bumi.
ADVERTISEMENT
Langkah ini menyusul kebijakan radikal yang telah diterapkan sebelumnya pada edisi dua ribu dua puluh enam dengan mendongkrak jumlah kontestan dari tiga puluh dua menjadi empat puluh delapan armada tempur.
Perubahan skema kompetisi tersebut secara otomatis mengubah peta persaingan di fase kualifikasi regional, memberikan ruang hidup baru yang lebih kompetitif bagi jajaran negara di kawasan benua Asia termasuk skuad Garuda.
Langkah pasukan Merah Putih yang dikomandani oleh bek tangguh Jay Idzes sendiri sejatinya sempat meretas asa tinggi sebelum akhirnya terpaksa menyudahi perjuangan di fase putaran keempat kualifikasi zona Asia.
Meskipun hajatan akbar di kawasan Amerika Utara belum resmi digulirkan, manajemen pusat federasi dilaporkan sudah mulai menyusun cetak biru terobosan baru demi menyambut perayaan satu abad turnamen sepak bola tersebut.
Pihak internal federasi dikabarkan merespons positif usulan tertulis yang diajukan oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan mengenai perluasan jangkauan kepesertaan global hingga menyentuh angka enam puluh enam tim nasional.
Presiden Gianni Infantino dilaporkan menyambut hangat ide ekspansi tersebut, sebuah sinyal hijau yang berpotensi memicu penambahan jatah kelulusan untuk masing-masing zona benua pada masa mendatang.
Kondisi geopolitik olahraga ini tentu sangat menguntungkan bagi otoritas sepak bola tanah air yang sedang gencar mengonsolidasikan peta kekuatan baru guna membidik target lolos ke putaran final periode mendatang.
Guna merealisasikan mimpi besar tersebut, manajemen tim nasional telah mempercayakan kendali strategi taktis kepada arsitek lapangan hijau John Herdman dalam proyek pengembangan pemain jangka panjang nasional.
Secara historis, Indonesia sesungguhnya mengantongi rekam jejak emas sebagai representasi pertama dari kawasan Asia yang berhasil mencicipi atmosfer putaran final pada edisi seribu sembilan ratus tiga puluh delapan di Prancis dengan nama Hindia Belanda.
Tiket kelolosan kala itu diraih secara otomatis pasca-mundurnya armada kekaisaran Jepang akibat pecahnya konflik bersenjata, meskipun langkah perdana sang wakil Asia langsung kandas usai ditundukkan tim kuat Hungaria dengan skor telak.
Kini, determinasi untuk kembali mengukir sejarah manis di pentas dunia kian membubung tinggi seiring dengan masifnya pembenahan kompetisi domestik serta adanya potensi pelonggaran kuota kelolosan dari otoritas tertinggi sepak bola global.
Jutaan pasang mata pendukung fanatik di tanah air menaruh harapan besar agar momentum emas ini dapat dikonversi menjadi prestasi nyata sekaligus mengakhiri masa penantian panjang selama hampir satu abad.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok