Repelita Jakarta - Nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal menghadapi guncangan pelemahan yang sangat masif dalam beberapa waktu ke depan. Ekonom senior Profesor Ferry Latuhihin menilai situasi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam sebuah tayangan yang disiarkan oleh kanal YouTube Forum Keadilan TV pada hari Senin tanggal 14 September 2026, ia mengungkapkan pandangan tersebut secara mendalam.
ADVERTISEMENT
Pelemahan ini berpotensi terus bergulir jika harga minyak dunia bertahan tinggi.
Menurut penuturan Ferry Latuhihin, pergerakan instrumen keuangan global saat ini sangat menekan pasar domestik.
Kondisi tersebut diperparah oleh penyusutan selisih imbal hasil aset di dalam negeri dengan aset luar negeri.
"Rupiah akan mengalami tekanan pelemahan yang sangat dahsyat bila harga minyak tetap di atas 100 US dar 10 year US," ujar Ferry Latuhihin saat menjelaskan prediksi ekonominya mengenai pergerakan nilai tukar mata uang domestik.
Ia menambahkan bahwa situasi di mana imbal hasil surat utang Amerika Serikat menyentuh angka 5 persen akan memicu pelarian modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Hal ini membuat investor cenderung memilih aset yang lebih aman di negara maju.
Langkah Bank Indonesia untuk meredam gejolak ini dinilai menghadapi tantangan yang sangat berat.
Intervensi pasar secara masif berisiko menguras cadangan devisa negara tanpa jaminan mampu memulihkan posisi rupiah secara instan.
Ferry Latuhihin juga menyatakan, "Aset yang paling aman saat ini itu bukan saham ya bukan obligasi ya bukan emas ya emas nomor du lah ya tapi yang paling utama kalau Anda mau aman 1 tahun ke depan itu US dollar sebelum harga minyak naik bahwa keep buying US dollar."
Lebih lanjut, ia menyarankan agar masyarakat yang memiliki kelebihan likuiditas dalam bentuk rupiah untuk mengalihkan aset mereka ke mata uang asing.
Selain dolar Amerika Serikat, opsi mata uang lain yang bisa dikombinasikan adalah dolar Australia serta dolar Singapura.
Kombinasi pembengkakan defisit transaksi berjalan serta tekanan inflasi impor akibat kenaikan biaya energi diprediksi menjadi tantangan nyata bagi perekonomian nasional.
Dampak makro ini dinilai akan berimbas langsung pada beban subsidi dalam anggaran negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok