Repelita [Jakarta] - Perdebatan seputar diksi londo ireng yang diungkapkan kepala negara memancing reaksi keras dari kalangan akademisi hukum tata negara.
Pakar hukum tata negara tersebut menilai penggunaan argumen historis justru berisiko menghantam balik lingkaran elit penguasa saat ini.
ADVERTISEMENT
Mendiang begawan ekonomi nasional sumitro djojohadikusumo disebut berpotensi menyandang stigma serupa karena rekam jejak kedekatannya dengan kekuatan barat.
“Londo Ireng. Kalo pake data sejarah, begawan Ekonomi kata Sumitro bisa kena tudingan yang sama karena dekat di asing,” kata Feri.
Kritikan menohok itu turut diarahkan kepada riwayat perjalanan hidup sang presiden tatkala bermukim di kawasan timur tengah masa lampau.
“Asumsi dangkal Londo Ireng bahkan cocok bagi beliau sendiri dengan modifan, misal: "Yordan Ireng",” ucapnya.
Sikap serupa disematkan kepada kerabat dekat kepala negara yang pernah menghadiri agenda strategis di negeri Paman Sam.
“Hasyim dulu rapat di US cocok juga tuh,” terangnya.
Bahkan, sang pengamat memberikan masukan telak agar pimpinan tertinggi republik ini mengurangi frekuensi berpidato di ruang publik.
“Sudah pak jangan pidato deh. Ngak baik untuk bapak,” pungkasnya.
Polemik ini bermula dari pidato politik presiden ketika menghadiri hajatan akbar ulang tahun partai politik di ibu kota.
Pemerintah mengeklaim program perbaikan fasilitas belajar ditargetkan menyentuh ratusan ribu unit bangunan sekolah dalam waktu dekat.
Namun, pemberitaan media massa yang kerap menyoroti fasilitas rusak dinilai abai terhadap masifnya pembangunan yang telah dikerjakan.
“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum dipeebaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama,” ujarnya.
Pemerintah mengeklaim tetap membuka ruang kebebasan berpendapat namun menyayangkan adanya muatan narasi pesimistis dari kelompok tertentu.
“Kalian sudah tahu lah kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujarnya.
Pihaknya lantas menyinggung keberadaan elemen masyarakat yang dinilai kerap berpihak pada kepentingan asing melalui profesi modern saat ini.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain Itu yang dulu kita sebut londo ireng ya,” ungkapnya.
Wujud pengabdian tersebut kini bertransformasi mengenakan atribut profesi seperti wartawan, jurnalis, maupun lembaga swadaya masyarakat.
“Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM,” papar Prabowo.
Transparansi sumber penghidupan para pengkritik pemerintah turut dipertanyakan secara terbuka di hadapan khalayak ramai.
“Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah. Kita tahu kan,” ujarnya.
Narasi kebangkrutan ekonomi nasional yang kerap disuarakan berbagai pihak dinilai tidak pernah terbukti kenyataannya hingga detik ini.
“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besa untuk kita goyah. Indonesia kolaps. Bulan April lewat nggak kolaps, Mei lewat nggak kolaps, bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” ucapnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok