Repelita Jakarta - Gelombang tanggapan publik terkait perombakan posisi strategis di sektor keuangan nasional terus mengalir dari berbagai kalangan pengamat serta tokoh politik tanah air.
Salah satu pandangan tajam datang dari Direktur Eksekutif Indonesia Police Monitoring sekaligus politisi nasional, Ferdinand Hutahaean, yang mengupas alasan di balik pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa.
ADVERTISEMENT
Pergantian kepemimpinan fiskal tersebut resmi terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 14 September 2026.
Menanggapi keputusan krusial tersebut, Ferdinand berpandangan bahwa langkah pencopotan tersebut didasari oleh pertimbangan substantif meskipun bukan dipicu oleh polemik terkait persoalan laba keuangan.
“Pencopotan Purbaya itu saya pikir ada alasan kuat ya, tetapi yang saya tahu bukan karena dia menyinggung laba dan antara, tidak sama sekali,” ujar Ferdinand kepada fajar.co.id, Senin (14/9/2026).
Lebih lanjut, ia mengeklaim mengetahui adanya rangkaian peristiwa spesifik yang berujung pada keputusan mendadak kepala negara untuk melengserkan sang menteri dari jabatannya.
“Yang saya tahu ada, ada sebuah peristiwa yang mengakibatkan dia dicopot,” tegasnya menyoroti dinamika internal pemerintahan.
Politisi tersebut menilai akar permasalahan dari pergeseran tampuk pimpinan ini bersumber dari ketidakmampuan pejabat bersangkutan dalam mengeksekusi visi besar pemerintah.
“Tapi intinya apa? Bahwa Purbaya gagal menerjemahkan keinginan Presiden, menerjemahkan apa yang diharapkan Presiden,” Ferdinand menekankan.
Menurutnya, pemegang hak prerogatif tentu memiliki diskresi penuh untuk melakukan evaluasi serta koreksi cepat apabila menemui hambatan dalam roda kepemimpinan eksekutif.
“Dan Presiden tentu harus melakukan langkah strategis bagaimana supaya pemerintahannya berjalan dengan baik,” terangnya menjelaskan rasionalitas kebijakan tersebut.
Ia menambahkan bahwa pemantauan terhadap kinerja kementerian selama ini menunjukkan adanya celah ketidakmampuan dalam mengemban amanat strategis dari kepala negara.
“Ada banyak peristiwa yang memang selama ini kita pantau Purbaya ini agak tidak mampu menjalankan amanah dari Presiden,” ungkapnya.
Kendati demikian, ia memilih untuk tidak membeberkan secara detail peristiwa spesifik yang melatarbelakangi pencopotan demi menjaga fokus pada perbaikan kinerja pemerintahan ke depan.
Publik diminta untuk melihat langkah perombakan kabinet ini sebagai mekanisme kontrol yang wajar dalam rangka memperkuat stabilitas perekonomian nasional secara menyeluruh.
“Tapi yang pasti apapun itu alasannya, kita tidak usah membahas alasan di balik itu,” Ferdinand menuturkan mengakhiri pandangannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok