Repelita Tel Aviv - Sejumlah kantor berita mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi personel militer Israel di tengah eskalasi perang dengan Iran, di mana ratusan prajurit yang mengalami gangguan psikologis berat termasuk PTSD atau gangguan stres pasca-trauma dipanggil kembali untuk bertugas meskipun masih menjalani perawatan rehabilitasi.
Banyak di antara mereka belum sempat diperiksa oleh komite medis resmi, sebuah proses administratif yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun sebelum seseorang dinyatakan tidak layak bertugas karena alasan kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
Akibat tekanan dan ancaman yang dilontarkan komandan langsung, sebagian besar prajurit yang masih dalam masa pemulihan akhirnya menyerah dan kembali mengenakan seragam militer meskipun masih dihantui trauma mendalam dari pengalaman sebelumnya di medan perang.
Beberapa komandan bahkan mengancam akan menjerat mereka dengan tuduhan desersi atau meninggalkan tugas tanpa izin jika menolak panggilan tugas, sementara pendekatan serupa juga diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri.
Sejak pecahnya perang dengan Iran pada 28 Februari 2026, media Haaretz mengklaim telah menerima lebih dari 20 laporan serupa dari berbagai kesatuan militer Israel, dan baru setelah ada intervensi pihak militer pada kasus-kasus tertentu, perintah penugasan tersebut dicabut.
Kondisi ini mencerminkan betapa daruratnya kekurangan personel militer Israel di tengah perang multi-front, hingga pasien gangguan kejiwaan yang seharusnya menjalani pemulihan pun tak luput dari panggilan perang yang membahayakan kesehatan mental mereka.
Di saat yang sama, Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari, dengan juru bicara militer Houthi Brigjen Yahya Saree menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari Perang Jihad Suci.
Saree menegaskan dalam pernyataan yang dirilis pada Ahad (29/3/2026) bahwa Houthi akan melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.
Sementara itu, pengungsi Palestina generasi ketiga sekaligus profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, Ghada Ageel, menyampaikan solidaritas mendalam kepada rakyat Iran dalam opininya yang dimuat Al Jazeera pada Sabtu (28/3/2026).
Ia menilai tragedi yang kini menimpa Iran mencerminkan penderitaan panjang yang dialami rakyat Palestina sejak Nakba 1948 hingga kehancuran Gaza yang berlangsung berbulan-bulan akibat agresi militer Israel.
“Kebebasan orang lain sama sekali bukan agenda Barat, terlepas dari retorika publiknya. Imperialisme semacam ini tidak menginginkan kebebasan; ia menginginkan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan,” tulis Ageel dalam opininya yang dikutip Al Jazeera pada Sabtu (28/3/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa perang tidak pernah selektif karena bom tidak pandang bulu dan kehancuran selalu menimpa warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.
Ageel menyoroti pola serangan Israel yang serupa antara Gaza dan Iran, termasuk penargetan infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan ruang publik, serta taktik serangan ganda yang menyasar tim penyelamat yang datang membantu korban pertama.
Bagi Ageel, Gaza telah menjadi laboratorium bagi strategi militer Israel yang kini meluas ke wilayah lain termasuk Iran dan Lebanon, dan ia memperingatkan bahwa jika pola kekerasan ini terus berlanjut maka kawasan Timur Tengah berisiko mengalami kehancuran berkepanjangan.
Sutradara film legendaris Iran Majid Majidi yang dikenal melalui karyanya Children of Heaven menilai Teheran saat ini berada pada posisi simbolis bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia, di tengah operasi gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel.
“Hari ini, Republik Islam Iran mewakili semua orang tertindas dan teraniaya di dunia, berdiri menghadapi rezim Israel dan melawan kebijakan hegemonik pemerintah Amerika Serikat,” kata Majidi melalui pernyataan tertulisnya yang dirilis pada Ahad (29/3/2026).
Majidi menggambarkan perang yang berlangsung bukan sekadar konflik militer melainkan perang antara kebenaran dan kebatilan yang dampaknya dirasakan hingga ke masyarakat sipil, di mana rumah-rumah penduduk, rumah sakit, hingga sekolah anak-anak ikut menjadi bagian dari realitas perang.
“Terlepas dari semua kekerasan dan tekanan, rakyat Iran tetap berdiri tegak, mulai dari para pemimpinnya hingga anak-anak sekolah dasar yang tidak berdosa. Mereka semua adalah bagian dari narasi perlawanan suatu bangsa yang tidak mau tunduk pada tekanan,” ucap Majidi dalam pernyataan tertulisnya.
Majidi juga menyerukan peran kalangan intelektual, penulis, dan seniman dunia karena menurutnya mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan manusia dan harus membela kebenaran serta martabat manusia melalui seni dan pemikiran.
“Hari ini, tanggung jawab moral dan kemanusiaan mereka terhadap penindasan dan ketidakadilan menjadi sangat jelas lebih dari sebelumnya. Hari ini adalah hari kebangkitan dan kesadaran hati nurani di seluruh dunia, hari ketika orang-orang merdeka berdiri melawan ketidakadilan dan membela martabat manusia,” kata Majidi menutup pesannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok