Berita, Nasional

Empat Kali ke Prancis dalam Waktu Singkat, Rizal Fadillah Kritik Agenda Luar Negeri Prabowo

Repelita.net

03 June 2026 15:31 WIB • 660 view

Empat Kali ke Prancis dalam Waktu Singkat, Rizal Fadillah Kritik Agenda Luar Negeri Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Agenda perjalanan dinas ke luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto ke negara Prancis kembali menuai sorotan tajam. Langkah diplomasi tersebut memicu kritik dari pengamat politik dan kebangsaan, Rizal Fadillah, yang mempertanyakan efektivitasnya.

Rizal secara khusus menyoroti frekuensi kunjungan yang dianggap terlalu berdekatan satu sama lain di tengah kondisi perekonomian nasional saat ini. Menurutnya, perjalanan dinas yang dilakukan sebanyak empat kali ke Prancis dalam tempo singkat memerlukan keterbukaan informasi kepada publik.

ADVERTISEMENT

Rizal menilai tingginya intensitas lawatan luar negeri tersebut bertolak belakang dengan semangat efisiensi anggaran negara yang sering dikampanyekan. "Empat kali bolak-balik ke Prancis menimbulkan pertanyaan, sepenting apa kunjungan intensif tersebut? Biaya negara dihambur-hamburkan sesuka hati," ujar Rizal pada Rabu (3/6).

Ia juga menyoroti keterlibatan Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang senantiasa mendampingi kepala negara. Komposisi delegasi inti ini mengingatkan dirinya pada penokohan fiksi dalam karya sastra klasik legendaris asal Eropa.

"Menlu Sugiono dan Seskab Teddy bersama Presiden Prabowo seperti menjadi Three Musketeers karya Alexandre Dumas," ucapnya saat memberikan pandangan. Penilaian itu ia dasarkan pada kesetiaan figur-figur pendamping tersebut dalam mengawal setiap langkah perjalanan pemimpin mereka.

"Mereka Porthos, Aramis, dan Athos yang sangat berkhidmat pada Louis XIII di Paris," tambahnya memberikan analogi historis bagi delegasi Indonesia. Rizal kemudian mengaitkan karakteristik kepemimpinan masa lalu di Prancis yang menjadi tonggak awal dari lahirnya sistem kekuasaan yang absolut.

"Meski lemah, ia dan kelak putranya Louis XIV menjadi peletak dasar kekuasaan absolut. Ucapan terkenal Louis XIV adalah 'l'etat c'est moi', negara adalah aku," tukasnya memberikan catatan sejarah.

Rizal berpendapat bahwa kemewahan yang diperlihatkan selama kunjungan tersebut kurang peka terhadap realita beban hidup yang dihadapi masyarakat bawah. "Prabowo bolak-balik ke Prancis menciptakan gambaran kemewahan. Menginap kembali di hotel mahal Four Seasons George V Paris dengan biaya menginap Rp5,8 miliar," imbuhnya.

Ia menambahkan, ketidakjelasan detail kegiatan selama berada di sana membuat esensi dari perjalanan diplomasi tersebut sulit untuk dipahami manfaatnya. "Tiba Selasa, bertemu Macron Kamis. Kesan berlibur sangat kentara karena agenda selama di Prancis tidak transparan," timpalnya memberikan kritik lanjutan.

Selain itu, ia mengaitkan momentum lawatan ini dengan isu hangat dalam negeri mengenai penyaluran hewan kurban yang menggunakan dana APBN. "Kunjungan mendadak ini bertepatan dengan program 'lempar batu sembunyi tangan' kurban 1.098 ekor sapi APBN yang di dalam negeri menjadi kontroversial," sesalnya.

Rizal memandang program pembagian berskala besar tersebut sarat akan muatan politis terselubung untuk masa depan, meski dibela banyak pihak. "Mereka terharu atas kebaikan Prabowo, lupa akan kemungkinan itu adalah lemparan kotoran sapi 1.098 demi 2029," jelasnya memberikan argumen.

Kedekatan emosional antara Presiden Prabowo dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menjadi objek pembahasan krusial bagi dirinya. "Di Prancis cipika-cipiki dengan Macron, datang dan pergi. Jabat tangan dan pelukan hangat untuk menikmati jamuan santap malam di Les Salon des Portraits, Istana Elysee, Paris," bebernya.

Rizal mensinyalir adanya komitmen baru pascapertemuan bilateral tersebut, termasuk wacana pengajaran bahasa asing di lembaga pendidikan tanah air. "Dari cipika-cipiki ini keluar instruksi Prabowo, kewajiban sekolah di Indonesia untuk mengajarkan bahasa Prancis," terang dia memaparkan dampak pertemuan.

Secara akumulatif, Rizal menilai jumlah total perjalanan internasional yang telah dicatatkan kepala negara sudah melebihi batas kelayakan formal. "50 kali piknik luar negeri berbaju dinas dan 4 kali dalam waktu yang rapat ke Prancis bertemu Macron," tutur Rizal.

Rizal menilai fenomena ini berseberangan dengan komitmen awal pemerintah yang mengedepankan gerakan penghematan kas negara secara ketat. "Bisa sampai tahap memuakkan mengingat pidato keras tentang penghematan dan kecaman pejabat yang sering melakukan kunjungan ke luar negeri. Kemunafikan nyata dari seorang yang bernama Prabowo," tambahnya.

Pada bagian akhir, ia melayangkan kesimpulan umum mengenai kapabilitas pengelolaan tata kelola pemerintahan yang berjalan saat ini. "Setelah berbagai program dalam negeri ambruk dan menggerus dana negara, Prabowo semakin menunjukkan ketidakbecusan dalam mengelola negara," tandasnya.

Rizal menilai kunjungan diplomatik paling buncit yang dilakukan ke ibu kota Prancis tersebut sama sekali tidak membawa keuntungan strategis bagi bangsa. "Kunjungan terakhir yang romantis dan tidak strategis ke Paris membuat konklusi kuat bahwa Prabowo adalah presiden yang memang butut," kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung