Berita, Nasional

Eks Intelijen Bongkar Skenario Gibran Jadi Presiden Lebih Cepat, Singgung Nasib Prabowo

Repelita.net

04 August 2026 01:20 WIB • 442 view

Eks Intelijen Bongkar Skenario Gibran Jadi Presiden Lebih Cepat, Singgung Nasib Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Wacana mengenai peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menduduki kursi kepresidenan sebelum periode kepemimpinan berakhir kembali memicu kegemparan publik.

Isu panas tersebut mencuat usai praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra memaparkan analisisnya terkait potensi dinamika politik yang dapat memengaruhi nasib keberlanjutan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

Dalam sebuah pembahasan di saluran YouTube 2045 TV, Radjasa membongkar adanya skenario yang memungkinkan Gibran secara otomatis mengambil alih tampuk kekuasaan apabila Presiden mengundurkan diri.

Ia berpandangan bahwa gelombang desakan masyarakat serta tekanan konstelasi nasional dapat menjadi pemicu utama di balik berhentinya masa jabatan Presiden lebih awal.

"Yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing mulai Agustus dan seterusnya, bisa saja Presiden mengundurkan diri karena desakan publik. Kalau itu terjadi, yang jadi Presiden ya Wakil Presiden," ujar Radjasa.

Di samping peta tekanan publik, kondisi kebugaran dan kesehatan Prabowo juga dinilainya sebagai faktor krusial yang turut menentukan nasib kepemimpinan nasional ke depan.

"Sesungguhnya kondisi kesehatan Prabowo juga enggak baik-baik saja. Itu juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan," katanya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa skenario mundurnya Presiden secara sukarela memiliki perbedaan mendasar dengan mekanisme pemakzulan formal di parlemen.

"Kalau Presiden mengundurkan diri itu beda dengan dimakzulkan. Itu dua hal yang berbeda," ucapnya.

Sesuai landasan konstitusi pada Pasal 8 ayat (1) UUD 1945, Wakil Presiden memang secara otomatis akan memegang pucuk pimpinan negara hingga akhir periode apabila Presiden mangkat, berhenti, mengundurkan diri, atau berhalangan tetap.

Sebelum pengakuan eks intelijen tersebut mengemuka, spekulasi mengenai peralihan kekuasaan yang lebih cepat ini juga sempat diungkapkan oleh pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie.

Connie mengaku pernah mendengar perbincangan dari Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, mengenai skenario kepemimpinan Prabowo yang diklaim hanya berlangsung selama dua tahun.

"Saya tanya, Pak Prabowo nanti jadi presiden berapa lama? Saya mendapat cerita rencananya dua tahun, lalu tiga tahun berikutnya diikuti Gibran," kata Connie.

Pernyataan tersebut langsung mendapat sanggahan keras dari Rosan Roeslani yang menegaskan tidak pernah merancang atau membicarakan skenario peralihan jabatan tersebut.

Rosan meluruskan bahwa gagasan mengenai batas waktu dua tahun itu justru pertama kali diembuskan oleh pihak Connie sendiri saat berdiskusi.

"Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Justru Bu Connie yang mengatakan, bagaimana kalau setelah dua tahun atau misalnya Pak Prabowo diracun. Saya langsung bilang, jangan bicara seperti itu, itu tidak pantas," kata Rosan.

Hingga saat ini, pihak Istana maupun Presiden Prabowo Subianto tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi terkait adanya rencana pengunduran diri atau percepatan pergantian pimpinan sebelum masa jabatan 2029 usai.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung