Berita, Nasional

Ekonom UGM Nilai Target Pembentukan 80 Ribu Koperasi Desa Terlalu Memaksa dan Minim Kajian

Repelita.net

23 August 2026 22:21 WIB • 353 view

Ekonom UGM Nilai Target Pembentukan 80 Ribu Koperasi Desa Terlalu Memaksa dan Minim Kajian
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pembentukan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih secara masif belum sebanding dengan peningkatan kinerja ekonomi organisasi secara nyata.

Ekonom Universitas Gadjah Mada Amirullah Setya Hardi menilai evaluasi menyeluruh perlu dilakukan jika efektivitas program hanya diukur dari kuantitas.

ADVERTISEMENT

Amirullah menyoroti ketimpangan signifikan antara lonjakan jumlah unit koperasi dengan perolehan Sisa Hasil Usaha atau SHU.

Pertumbuhan modal sendiri dan total aset koperasi tercatat mengalami peningkatan namun tidak diimbangi kenaikan SHU yang proporsional.

"SHU kita hanya naik dari Rp8,1 triliun menjadi Rp8,8 triliun. Coba bandingkan dengan dana yang sudah digelontorkan, kenaikannya sangat kecil. Yang justru berubah secara signifikan itu jumlah tenaga kerja dan jumlah Nomor Induk Berusahanya," paparnya.

Ia mengingatkan esensi utama koperasi adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh anggotanya.

"Tujuan Koperasi Desa Merah Putih itu terlalu banyak. Padahal seharusnya tidak begitu, karena tujuan koperasi itu tunggal, yaitu mencukupi kebutuhan anggota. Itu saja. Kalau kebutuhan anggota terpenuhi, maka dengan sendirinya mereka akan sejahtera," ujarnya.

Sisi tata kelola kelembagaan juga menuai sorotan karena masih banyak unit yang belum menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan.

Proses pembentukan puluhan ribu koperasi dalam tempo singkat dinilai rawan lantaran minimnya kajian kebutuhan riil masyarakat.

Besarnya biaya pembangunan gerai fisik hingga miliaran rupiah per unit memicu pertanyaan mengenai kriteria penetapan target program.

Penentuan lokasi gerai yang berdekatan juga dinilai cenderung mengadopsi pola persaingan bisnis minimarket ketimbang prinsip efisiensi ekonomi desa.

"Kalau kita lihat pola lokasinya, ini logikanya sama seperti minimarket yang bersaing berdekatan, bukan hasil kajian kebutuhan masyarakat. Ada desa yang menolak karena mereka sadar itu tidak efisien secara ekonomi buat mereka," katanya.

Penerapan pendekatan penta helix yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan didorong agar keberhasilan program benar-benar dirasakan anggota. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung