Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Eko Kuntadhi melontarkan kritik pedas terhadap Amerika Serikat dengan menyebut negeri adidaya itu kini seperti preman pensiun yang babak belur setelah ketegangannya dengan Iran.
Dalam analisis yang diunggah di akun X miliknya pada 10 April 2026, Eko menilai klaim kemenangan militer AS tidak bisa hanya dilihat dari jumlah bom yang dijatuhkan, melainkan dampak jangka panjang yang justru merugikan Amerika sendiri.
ADVERTISEMENT
Meskipun Iran mengalami kerusakan fasilitas, serangan balasan Teheran terbukti melumpuhkan harga diri militer AS karena rudal Iran makin presisi.
"Jangan hanya lihat satu sisi. Memang Iran rusak, tapi rudal mereka makin presisi. Faktanya, hampir seluruh pangkalan militer AS di negara Teluk luluh lantak! Bahkan CNN menyebut pangkalan itu sudah tidak layak huni lagi," ujar Eko.
Ia menambahkan bahwa aset ekonomi vital seperti ladang minyak, pabrik LNG, hingga industri keuangan di Dubai juga kalang kabut, sementara jet tempur kebanggaan AS rontok oleh peluru Iran.
Eko menegaskan bahwa tujuan Trump dan Netanyahu untuk melakukan regime change di Iran gagal total karena rakyat Iran justru makin solid di belakang pemimpin mereka.
"Tujuan Trump dan Netanyahu itu regime change. Mereka ingin rakyat Iran pecah. Tapi apa yang terjadi? Rakyat Iran justru makin solid! Sebaliknya di AS, Trump justru didemo 8 juta warganya sendiri. Approval rating-nya jeblok ke angka 39%," tegasnya.
Secara geopolitik, Eko mengibaratkan AS sebagai sosok preman pensiun yang sudah kehilangan taring karena pamornya sebagai pelindung kawasan kini anjlok drastis.
"Dulu, apa yang AS mau, dunia harus tunduk. Lihat Venezuela, presidennya bisa diculik dengan mudah. Tapi sekarang? Pamor AS sebagai pelindung kawasan anjlok. Siapa yang mau beli senjata mahal dari AS kalau hasilnya cuma segitu doang?" sindir Eko.
Eko juga menyentil posisi Indonesia di panggung dunia karena suara RI dinilainya masih belum diperhitungkan meski sudah menawarkan diri sebagai fasilitator perdamaian sejak awal.
"Anehnya, PM Pakistan justru lebih didengar dunia sebagai fasilitator perdamaian. Padahal Indonesia sudah menawarkan diri sejak awal. Sayang, suara kita sepertinya masih belum dianggap di kancah global," tutupnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok