Penulis: Rina Syafri
Pusaran kasus rasuah yang mendera mantan petinggi kejaksaan agung, Febrie Adriansyah, terus memicu diskursus tajam di tengah masyarakat dan kalangan pengamat hukum. Desakan agar penegakan hukum berjalan secara progresif, tajam, dan menyasar seluruh pihak yang terlibat kian hari semakin menguat tanpa kompromi.
ADVERTISEMENT
Langkah pengusutan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dinilai tidak boleh berhenti pada figur Febrie seorang diri sebagai tumbal lapangan. Jaringan mafia kerah putih, perantara, hingga para penikmat aliran dana haram atau “beneficial owner” wajib diseret ke hadapan meja hijau tanpa pandang bulu.
Publik secara tegas menyuarakan agar sang mantan pejabat tinggi tersebut bersikap kooperatif dengan membongkar seluruh fakta secara terang benderang. Jangan sampai proses peradilan berjalan setengah hati atau sekadar menjadi sandiwara hukum untuk melindungi para aktor intelektual besar yang berada di balik layar.
Pengungkapan tindak pidana pencucian uang serta pelacakan aset hasil kejahatan menjadi instrumen paling krusial untuk memiskinkan para pelaku korupsi. Keberanian institusi penegak hukum kini tengah diuji di hadapan publik untuk membuktikan komitmen nyata dalam membersihkan institusi negara dari praktik kotor.
Dukungan moral dari segenap elemen civil society dan masyarakat luas sangat dibutuhkan guna mengawal jalannya proses persidangan agar tetap independen. Transparansi total adalah harga mati demi memastikan agar rasa keadilan substantif benar-benar hadir bagi seluruh rakyat Indonesia yang dirugikan.(*)