Repelita Jakarta - Safari politik Joko Widodo ke wilayah Jawa Barat memicu analisis mendalam mengenai dinamika politik nasional.
Berdasarkan tayangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada 27 September 2026, pergerakan mantan presiden tersebut dinilai membawa pengaruh yang sangat besar.
ADVERTISEMENT
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting, secara tegas menyebut Jokowi sebagai bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa memakan semuanya.
Pernyataan menohok ini didasari atas kejelian Jokowi dalam merancang strategi pergerakan di lapangan.
Menurut Doktor Selamat Ginting, mantan wali kota Solo tersebut kini tengah menjalankan jurus politik dewa mabok.
Langkah politik yang terkesan bergerak tanpa arah itu sengaja diterapkan untuk menguji reaksi dari Partai Gerindra.
Jurus tersebut juga dinilai membuat kubu lawan merasa kesulitan dalam membaca pusat gravitasi gerakan politik yang sedang dibangun.
Dalam diskusi bersama sejarawan Indra J Piliang, Doktor Selamat Ginting memetakan bahwa pergerakan ini sangat intensif.
Kondisi tersebut terlihat jelas dari rencana kedatangan Jokowi dalam agenda internal partai di wilayah Jawa Barat.
Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Ronald Azinaga atau Broron, mengonfirmasi kehadiran tersebut pascapertemuan di Solo.
Jokowi dijadwalkan menghadiri Rapat Koordinasi Daerah PSI Jawa Barat yang digelar pada akhir September 2026.
Langkah membidik Jawa Barat dinilai sangat strategis karena wilayah ini merupakan bank suara nasional terbesar dengan 36 juta pemilih.
Doktor Selamat Ginting membaca bahwa kehadiran Jokowi di medan terbesar ini bertujuan untuk menguji kekuatan ekosistem politiknya.
Popularitas personal yang dimiliki sang mantan presiden kini sedang dikonversi secara nyata menjadi kekuatan elektoral.
Dampak dari manuver bahaya laten ini mulai menyasar peta kekuatan figur lokal di tanah Pasundan.
Doktor Selamat Ginting membaca adanya potensi besar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk ditarik masuk ke dalam orbit politik Solo.
Bahkan muncul spekulasi kuat di ruang publik mengenai potensi duet antara Dedi Mulyadi dengan Gibran Rakabuming Raka untuk Pilpres 2029.
Jokowi sendiri sengaja membiarkan isu duet tersebut terus mencair dan berkembang luas di tengah masyarakat.
Langkah senyap ini dinilai menjadi umpan politik yang sangat seksi sekaligus berbahaya bagi kenyamanan poros Hambalang.
Sebab, Dedi Mulyadi yang memiliki modal popularitas digital tinggi saat ini masih berstatus resmi sebagai kader Partai Gerindra.
Dilema besar kini membayangi partai pemenang pemilu tersebut dalam merespons ruang komunikasi yang dibuka Jokowi.
Doktor Selamat Ginting mengingatkan bahwa daya pikat politik yang dimainkan Jokowi bisa menjadi bumerang bagi figur yang didekati.
Jika salah dalam mengambil keputusan taktis, posisi Dedi Mulyadi di persimpangan jalan ini bisa menjadi senjata makan tuan.
Publik kini terus mencermati seberapa jauh daya cengkeram politik dewa mabok ini dalam memetakan ulang kekuatan poros nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok