Berita, Nasional

Direktur The National Maritime Institute Beber Alasan Iran Tak Loloskan Kapal Pertamina, Bandingkan dengan Thailand dan Malaysia

Repelita.net

28 March 2026 13:06 WIB • 977 view

Direktur The National Maritime Institute Beber Alasan Iran Tak Loloskan Kapal Pertamina, Bandingkan dengan Thailand dan Malaysia
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Direktur The National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, membeberkan alasan mengapa Iran belum meloloskan dua kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz, sebuah kebijakan yang sangat kontras dengan perlakuan yang diberikan kepada Thailand dan Malaysia yang justru sudah mendapatkan izin melintas.

Siswanto menyinggung sebuah kapal tanker milik Iran bernama MT Arman 114 yang ditangkap oleh otoritas Indonesia dan hingga saat ini masih ditahan, yang menurutnya menjadi faktor utama di balik perbedaan perlakuan Teheran terhadap Indonesia dibandingkan negara tetangga.

ADVERTISEMENT

Ingat tidak teman-teman, ada kapal Iran yang ditahan saat ini di Indonesia, Arman 114, itu kapal ditangkap oleh Bakamla tahun lalu, demikian pernyataan Siswanto dalam wawancara yang dikutip dari kanal YouTube Sindo News pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Kapal tersebut, kata Siswanto, dituding melakukan pencemaran lingkungan dan akhirnya divonis disita oleh Kejaksaan Agung, dengan muatan minyak mentah yang sangat besar di atas kapal tersebut, sementara Thailand dan Malaysia tidak memiliki persoalan serupa dengan Iran.

Saat itu, ia mengaku berkomunikasi dengan atase pertahanan Iran yang meminta Indonesia untuk melepas kapal menjelang proses lelang, namun hingga hari ini kapal tersebut masih berada di perairan Indonesia, berbeda dengan pendekatan diplomasi yang dilakukan Thailand.

Soal lelangnya sudah tidak jelas lagi, terus atase itu bilang kami akan balas perlakuan ini, demikian Siswanto mengungkapkan pesan yang disampaikan oleh perwakilan Iran terkait penahanan kapal yang kemudian diduga menjadi penyebab pembalasan terhadap kapal Indonesia.

Sementara itu, Iran diketahui telah mengizinkan kapal-kapal milik Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz, sebuah kabar yang dikonfirmasi langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim setelah berdialog dengan Iran.

Sebelumnya, kapal tanker milik Thailand juga berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Senin, 23 Maret 2026, setelah Menteri Luar Negeri Thailand melakukan diplomasi intensif dengan otoritas Iran.

Hal tersebut menunjukkan hubungan baik yang terjalin antara Thailand dan Malaysia dengan Iran, di mana pihak Iran bahkan secara resmi menyebut Thailand sebagai teman sehingga memiliki tempat yang istimewa.

Siswanto membandingkan situasi ini dengan nasib dua kapal tanker minyak milik Pertamina yaitu VLCC Pertamina Pride dan MT Gamsunoro yang masih tertahan di area Teluk Arab atau Teluk Oman hingga saat ini.

Ia meminta agar pemerintah Indonesia bersikap transparan terkait negosiasi yang dilakukan dengan pemerintah Iran, terutama mengenai apa yang menjadi kartu tawar Indonesia dalam diplomasi yang berbeda dengan pendekatan Thailand dan Malaysia.

Itu yang menurut saya harus dibuka ke publik, jangan misalnya oke pemerintah nego dengan pemerintah Iran, itu yang dinegosiasikan apa, syarat-syarat negosiasi itu kan kalau negosiasi harus win-win, demikian ujar Siswanto.

Selain persoalan kapal MT Arman 114, Siswanto juga mengungkit sikap pemerintah Indonesia yang tidak mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran.

Kalau Iran kan sudah buka semuanya, karena kalian tidak mengucapkan bela sungkawa kepada pemimpin agung kami, kepada anak-anak kami yang mati dibom, kalian tidak mengucapkan, demikian ucap Siswanto mengutip keluhan pihak Iran.

Bahkan setelah pemimpin baru terpilih, ia menyebut tidak ada juga ucapan selamat yang disampaikan oleh pemerintah Indonesia kepada pemimpin baru Iran, sebuah sikap yang dinilai berbeda dengan pendekatan Thailand dan Malaysia.

Sekarang kalian berani mengungkapkan selamat juga kepada pemimpin agung kami yang baru, Iran sudah sampaikan, sekarang Iran menunggu Indonesia, terang Siswanto mengenai dinamika hubungan diplomatik kedua negara.

Pihak Pertamina mengonfirmasi bahwa kedua kapal tersebut dalam kondisi aman meskipun belum dapat melintasi Selat Hormuz, sementara pemerintah Indonesia mengaku telah menempuh jalur diplomasi yang hingga kini belum membuahkan hasil seperti yang dicapai oleh Thailand dan Malaysia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung