Repelita Jakarta - Langit diplomasi tidak selalu berwarna biru, dan di antara jalur pelayaran paling sibuk di dunia, ketegangan justru mengental seperti minyak yang tumpah di permukaan laut, dengan penahanan kapal tanker milik Pertamina oleh Iran selama hampir empat pekan.
Insiden maritim ini bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan pantulan dari relasi yang retak antara kedua negara, yang berlangsung secara sunyi namun terasa dampaknya di tengah eskalasi konflik kawasan.
ADVERTISEMENT
Nama Rusdi Siswanto muncul dengan membawa penjelasan yang membuka lapisan demi lapisan di balik keputusan Teheran untuk menahan kapal tanker Indonesia, yang menurutnya bukanlah tindakan yang tiba-tiba.
Menurut Rusdi, ada akumulasi rasa kecewa yang mengendap sejak beberapa tahun terakhir, dan Indonesia tanpa banyak disadari menjadi bagian dari cerita panjang ketegangan ini.
Puncaknya terjadi ketika Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menolak tawaran mediasi yang diajukan oleh Presiden Prabowo Subianto, sebuah sikap yang bukan hanya bentuk penolakan diplomatik tetapi juga sinyal tegas bahwa Iran memilih garisnya sendiri.
Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi global disebut hanya terbuka bagi negara-negara yang dianggap sahabat dan netral, sementara kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya ditutup aksesnya.
Dampak dari kebijakan ini terasa nyata karena lalu lintas laut yang biasanya riuh menjadi selektif, dengan hanya segelintir negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Thailand, dan Sri Lanka yang diberi ruang melintas.
Sementara itu, kapal tanker milik Pertamina yang menjadi simbol kepentingan energi Indonesia harus tertahan dalam ketidakpastian di tengah jalur pelayaran yang semakin sulit diakses.
Rusdi mengurai akar persoalan ini hingga ke tahun 2023, ketika kapal tanker raksasa MT Arman 114 dengan bobot lebih dari 300.000 ton ditangkap di Batam karena dituduh melakukan transfer ilegal dan mencemari laut.
Pengadilan kemudian memutuskan penyitaan kapal tersebut dan bahkan melelangnya dengan nilai fantastis, sebuah langkah yang bagi Teheran bukan sekadar penegakan hukum tetapi juga bentuk penghinaan terhadap Iran.
Mereka mengaku terbiasa menangkap kapal di wilayahnya sendiri, namun tidak pernah melakukan tindakan melelang kapal milik negara lain seperti yang dilakukan Indonesia dalam kasus tersebut.
Luka diplomatik itu belum sembuh ketika pada Februari 2025, dua kapal perang Iran dilaporkan ditolak dalam latihan multilateral Komodo di Bali meskipun telah mengantongi izin untuk berpartisipasi.
Keputusan tersebut disebut-sebut dipengaruhi oleh tekanan dari Amerika Serikat, sebuah tudingan yang menempatkan Indonesia dalam posisi serba salah antara menjaga hubungan global dan mempertahankan kedaulatan sikap.
Seorang pejabat Iran seperti dikutip Rusdi menyebut bahwa Indonesia terlihat terlalu berhati-hati terhadap Washington, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan makna panjang tentang kepercayaan yang mulai goyah.
Kini ketika konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, Selat Hormuz berubah menjadi titik tekan geopolitik di mana setiap kapal yang melintas membawa bukan hanya muatan energi tetapi juga beban diplomasi yang berat.
Penahanan tanker milik Pertamina menjadi pengingat bahwa jalur laut tidak pernah sekadar tentang perdagangan, karena ia adalah cermin dari hubungan antarnegara yang sedang retak.
Di tengah pusaran ketegangan ini, Presiden Prabowo Subianto tetap menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif, dengan pernyataan bahwa Indonesia tidak akan berpihak pada kekuatan mana pun.
Namun di laut lepas, realitas sering kali lebih keras dari prinsip yang dianut, karena keputusan di masa lalu bisa berlayar jauh dan menjadi gelombang yang baru terasa hari ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok