Repelita Jakarta - Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Komjen Pol Purnawirawan Dharma Pongrekun menyampaikan pesan khusus yang ditujukan kepada Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pernyataan tersebut diungkapkan olehnya saat menjadi narasumber dalam sebuah tayangan video yang diunggah melalui kanal YouTube dharmapongrekun pada hari Rabu tanggal enam belas September tahun dua ribu dua puluh enam.
ADVERTISEMENT
Dalam kesempatan tersebut ia meminta agar figur yang disapa Pak Purbaya itu tidak hanya sekadar berbicara di permukaan saja ketika membahas persoalan ekonomi negara yang sedang terjadi saat ini.
Ia mengharapkan adanya langkah nyata untuk masuk dan memperjuangkan penyelesaian dari akar masalahnya agar perekonomian bangsa Indonesia dapat benar-benar bangkit kembali.
Dharma Pongrekun kemudian menekankan bahwa esensi sejati dari seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya adalah kemauan serta keberanian yang kuat untuk mencari tahu apa yang menjadi dasar dari sebuah permasalahan.
Ia memberikan masukan bahwa salah satu akar persoalan ekonomi bermula dari situasi pandemi yang sempat melanda beberapa waktu lalu di mana terdapat kebijakan pengalihan anggaran belanja di berbagai instansi.
Dirinya meminta agar dilakukan penelusuran secara menyeluruh mengenai penggunaan dana refocusing dari kementerian serta lembaga yang jumlahnya diklaim mencapai lebih dari lima puluh persen tersebut.
Menurut penjelasannya kebijakan penanganan tersebut kerap menggunakan dalih demi menyelamatkan masyarakat namun ia menilai ada dampak lain yang justru menghancurkan stabilitas ekonomi rakyat.
Ia mendesak agar dilakukan pembongkaran serta pengejaran terhadap aliran dana penanganan tersebut guna melihat siapa saja pihak-pihak dari periode sebelumnya yang ikut menikmati keuntungan dari anggaran itu.
Lebih lanjut ia menyarankan agar pemerintah segera menghentikan atau mencabut seluruh alokasi anggaran yang dinilai dapat memicu atau mendukung terjadinya proses pandemi di masa-masa mendatang.
Pihaknya mengkritik keberadaan sejumlah pejabat yang terkesan peduli terhadap masyarakat padahal diduga hanya menjalankan skenario yang sudah ditentukan oleh pihak luar pemberi pinjaman uang.
Ia menyebutkan bahwa pihak tersebut datang ke ibu kota dengan tujuan untuk menagih kembali utang negara sehingga persoalan ini harus diselesaikan agar tidak dianggap sebagai gimik politik semata.
Dharma Pongrekun menegaskan bahwa permasalahan ini menyangkut urusan kemanusiaan dan ia mengingatkan agar pemerintah tidak menjadikan keselamatan atau nyawa masyarakat sebagai ladang bisnis.
Dirinya juga menyatakan kesiapan untuk membuka ruang diskusi demi memulihkan kondisi negara serta meminta agar segala bentuk manipulasi maupun upaya menakut-nakuti masyarakat segera dihentikan.
Sebagai solusi ia menyarankan pembentukan sebuah tim investigasi khusus yang bertugas mencari akar masalah dan melacak ke mana saja aliran uang negara tersebut dialokasikan.
Ia mengusulkan agar anak dari Purbaya Yudhi Sadewa dilibatkan sebagai ketua tim karena kalangan muda dinilai memiliki semangat independen yang belum terpengaruh oleh kepentingan asing.
Kekhawatiran itu muncul karena ia menilai pejabat senior terkadang memiliki keterbatasan serta rasa sungkan akibat tersandera oleh bayang-bayang masa lalu mereka sendiri.
Dalam narasinya ia membandingkan kondisi saat ini dengan era pemerintahan terdahulu yang sempat berhasil melunasi utang luar negeri berkat andil menteri kesehatan saat itu dalam menghambat pandemi.
Ia berpendapat bahwa pergantian kepemimpinan sering kali membuat negara masuk kembali ke dalam cetak biru agenda global yang pembagian anggarannya sudah terjadwal secara sistematis.
Oleh karena itu ia meminta agar isu kesehatan tidak lagi dimainkan untuk memicu krisis ekonomi baru serta memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.
Tingkat kepercayaan publik tersebut dinilai penting untuk segera diperbaiki melalui langkah reformasi penegakan hukum yang konkret serta pemberantasan korupsi yang dilakukan secara sungguh-sungguh.
Selain membahas anggaran kesehatan Dharma Pongrekun juga menyoroti proyek infrastruktur transportasi massal kereta cepat wus yang pembangunannya berjalan pada masa pandemi.
Ia menyayangkan adanya mobilitas pekerja asing yang masuk ke dalam negeri di saat masyarakat lokal justru dibatasi ruang geraknya untuk melakukan aktivitas luar rumah.
Menurut pandangannya situasi tersebut diperparah dengan banyaknya warga negara Indonesia yang terpaksa pergi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan sebagai tenaga kerja migran.
Ia menilai pemerintah kurang memiliki kepekaan dalam menyediakan lapangan kerja domestik yang memadai sehingga banyak pabrik lokal seperti industri tekstil yang terpaksa gulung tikar.
Kondisi kalah saing tersebut dinilai terjadi akibat adanya kebijakan impor yang dibuka oleh kementerian terkait sehingga merugikan keberlangsungan sektor produksi di dalam negeri.
Pada akhir pemaparannya ia memperingatkan masyarakat mengenai bahaya rencana global seputar digitalisasi, pajak karbon, pembatasan konsumsi air, hingga regulasi produk pangan rekayasa genetika.
Editor: 91224 R-ID Elok