Berita, Nasional

Detik-Detik Dharma Pongrekun Buka Suara Soal Pak Purbaya untuk Menyampaikan Informasi Ini

Repelita.net

16 September 2026 23:51 WIB • 95 view

Detik-Detik Dharma Pongrekun Buka Suara Soal Pak Purbaya untuk Menyampaikan Informasi Ini
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Komjen Pol Purnawirawan Dharma Pongrekun mendadak buka suara dan menyampaikan pesan mendalam yang ditujukan khusus kepada Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa.

Pernyataan yang merekam detik-detik dirinya memberikan masukan serius tersebut disiarkan melalui tayangan video di kanal YouTube dharmapongrekun pada hari Rabu tanggal enam belas September tahun dua ribu dua puluh enam.

ADVERTISEMENT

Dalam tayangan itu ia mendesak agar figur yang akrab disapa Pak Purbaya tersebut tidak sekadar membawa isu ekonomi di permukaan saja melainkan harus berani membongkar hingga ke akar permasalahannya.

Ia menyatakan bahwa seorang pemimpin yang tulus mencintai rakyat pasti akan bergerak mencari sumber masalah utama dan ia secara langsung membeberkan bahwa akar persoalan ekonomi saat ini bermula dari tata kelola anggaran penanganan pandemi.

Dharma Pongrekun meminta dilakukan pemeriksaan tuntas terhadap penggunaan dana hasil refocusing dari berbagai kementerian dan lembaga yang nilainya diklaim sempat dialihkan hingga lebih dari lima puluh persen.

Ia menilai pengalihan anggaran raksasa dengan dalih keselamatan masyarakat tersebut justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperkaya bisnis farmasi sekaligus memperburuk kondisi ekonomi rakyat.

Melalui momentum tersebut ia menuntut agar aliran dana dikejar secara transparan guna mengungkap siapa saja oknum pejabat dari periode lalu yang hingga kini masih menikmati keuntungan di atas penderitaan masyarakat.

Lebih lanjut ia meminta pemerintah segera menghentikan seluruh alokasi anggaran yang berpotensi mendukung atau memicu propaganda terjadinya skenario pandemi baru di masa depan.

Pihaknya mensinyalir ada beberapa menteri yang seolah-olah menunjukkan kepedulian kepada publik padahal diduga kuat hanya menjalankan skenario dari pihak luar yang memberikan pinjaman utang kepada Indonesia.

Ia juga memperingatkan adanya kedatangan pihak pemberi dana global ke Jakarta yang bertujuan untuk menagih utang sehingga masalah ini harus diselesaikan secara nyata agar tidak menjadi gimik politik semata.

Menurutnya persoalan ini bukan lagi sekadar masalah administrasi melainkan sudah masuk ke dalam ranah kejahatan kemanusiaan karena ada indikasi oknum pemerintah yang tega berbisnis menggunakan nyawa rakyat.

Sebagai langkah konkret ia mengusulkan pembentukan tim investigasi khusus untuk melacak aliran uang tersebut dan menyarankan agar anak dari Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk menjadi ketuanya.

Langkah pelibatan generasi muda itu dinilai penting karena para pejabat senior sering kali merasa sungkan dan tersandera oleh kepentingan masa lalu sehingga kurang memiliki keberanian untuk bertindak tegas.

Ia membandingkan situasi sekarang dengan era kepemimpinan masa lalu yang sempat melunasi utang luar negeri berkat ketegasan menteri kesehatan saat itu dalam menghalau agenda pandemi global.

Namun setelah terjadi pergantian kekuasaan ia melihat negara kembali terjebak masuk ke dalam cetak biru agenda asing yang pembagian anggarannya sudah diatur dalam jadwal kerja sistematis.

Oleh karena itu ia mendesak agar permainan isu kesehatan segera diakhiri agar tidak berdampak pada krisis ekonomi berkelanjutan serta jatuhnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.

Selain membeberkan masalah anggaran kesehatan ia juga menyoroti kejanggalan proyek infrastruktur kereta cepat wus yang pembangunannya berjalan bebas di masa pandemi saat mobilitas warga lokal justru dibatasi ketat.

Ia menyayangkan sikap abai pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja domestik yang menyebabkan banyak warga lokal terpaksa menjadi tenaga kerja migran ke luar negeri demi menyambung hidup.

Kondisi tersebut diperparah oleh gulung tikarnya sejumlah pabrik tekstil dalam negeri akibat kebijakan impor dari kementerian terkait yang membuat produk lokal kalah bersaing di pasar.

Di akhir pernyataannya ia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai berbagai program global terstruktur seperti digitalisasi massal, pajak karbon, pembatasan konsumsi air, hingga peredaran pangan hasil rekayasa genetika.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung