Repelita [Jakarta] - Aksi demonstrasi yang diinisiasi oleh BEM SI Kerakyatan wilayah Jakarta bersama Aliansi Cipayung Menggugat di depan gerbang DPR/MPR RI, Senin (15/6/2026), berakhir dengan tertib.
Massa sempat melayangkan ultimatum kepada pihak legislatif agar segera memberikan respons konkret atas seluruh poin tuntutan dalam kurun waktu 3x24 jam.
ADVERTISEMENT
Sebelum membubarkan diri secara berangsur-angsur, tiga perwakilan demonstran membacakan naskah tuntutan di hadapan seluruh peserta aksi.
Situasi di kawasan Senayan pun berangsur normal, dengan arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto yang kembali lancar serta area aksi yang dibersihkan oleh petugas.
Farizal, selaku Koordinator Daerah BEM SI Jakarta, menegaskan bahwa pilihan aksi di depan parlemen bertujuan agar keresahan mahasiswa didengar langsung oleh para wakil rakyat.
Ia melontarkan kritik pedas terkait minimnya produktivitas DPR selama satu bulan terakhir yang dinilai mengabaikan kepentingan masyarakat luas.
"Kami merasa bahwa DPR satu bulan ini tidak bekerja. DPR satu bulan ini tidak menunjukkan sikap pro terhadap rakyat,” tutur Farizal, Senin (15/6/2026).
Mahasiswa menuding dewan lebih sibuk mengurus RUU Polri daripada menangani berbagai persoalan ekonomi yang mendesak.
Terdapat penolakan tegas dari massa aksi untuk masuk ke dalam gedung, dengan desakan agar anggota dewan keluar menemui mereka di bawah terik matahari.
“Kami tidak mau untuk kami yang masuk ke dalam, dan kami ingin perwakilan daripada dewan perwakilan rakyat menemui massa aksi di sini. Kita duduk bersama-sama, kita berpanas-panasan di sini, tidak duduk diam karena lagi-lagi diam adalah sebuah pengkhianatan,” ucapnya.
Deretan tuntutan yang dibawa meliputi evaluasi RUU Polri, stabilisasi rupiah melalui pemangkasan pemborosan APBN, serta peninjauan ulang program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah untuk berani mengakui kegagalan dalam tata kelola kepemimpinan nasional.
Orator aksi membakar semangat massa dengan menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk kecintaan terhadap tanah air dan menolak keras narasi miring yang diarahkan kepada mereka.
"Ini bukti mahasiswa cinta negeri ini, bahwa mahasiswa bukan antek-antek asing!” teriak orator.
“Di sini kami bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sebagai wakil rakyat. Kami lah wakil rakyat sebenarnya, teman-teman! Bukan yang ada di dalam!” tegas orator lainnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok