Berita, Nasional

Date Canceled Gara-Gara Baca Tere Liye, Lulusan Sastra Ungkap Soal Preferensi Ideologis Pembaca

Repelita.net

20 August 2026 19:24 WIB • 548 view

Date Canceled Gara-Gara Baca Tere Liye, Lulusan Sastra Ungkap Soal Preferensi Ideologis Pembaca
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Perbincangan mengenai pembatalan kencan akibat preferensi bacaan karya Tere Liye tengah menjadi tren hangat di jejaring sosial Threads.

Fenomena tersebut mendapat tanggapan ilmiah dari salah seorang lulusan Sastra Indonesia yang mengulasnya dari sudut pandang pemikiran sastra.

ADVERTISEMENT

Penjelasan mendalam mengenai alasan di balik perbedaan selera membaca tersebut dibagikan oleh pemilik akun Threads @poetryofalfaa pada tanggal 05/09/26.

"Lagi rame soal "Date canceled gara-gara dia baca buku-buku Tere Liye". Izinkan aku lulusan Sastra Indonesia menjelaskan soal ini ya. Baca sampai selesai agar tidak salah paham. Narasi " Date canceled , dia baca buku-buku Tere Liye" kalo dibaca mentah, kesannya kayak book shaming. Padahal kalau ditarik lebih dalam, itu sebenarnya soal preferensi ideologis dalam membaca." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Ia kemudian memaparkan dua arus besar dalam dunia sastra Indonesia yang memengaruhi pola pikir serta minat para pembaca.

Dua kiblat utama yang dimaksud meliputi pemikiran Pramoedya Ananta Toer serta pemikiran Goenawan Mohamad.

"Sekilas keliatan kayak ngehina bacaan orang. Tapi sebenarnya enggak. Di Indonesia, kalau kita ngomongin arus besar sastra, secara umum bisa dilihat dari dua kiblat: Pramoedya Ananta Toer (Pram) dan Goenawan Mohammad (GM) Pram mewakili kelompok "Lekra". Lekra berpandangan, kalo sastra harus berpijak pada realitas sosial, konflik kelas, sejarah rakyat, dan keberpihakan. GM mewakili kelompok " Manifesto Kebudayaan" atau disingkat "Manikebu"." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Dirinya menilai bahwa penikmat karya Tere Liye cenderung lebih selaras dengan prinsip-prinsip gagasan Manikebu.

Aliran tersebut dinilai mengutamakan perenungan pribadi, ajaran moralitas, serta nuansa spiritualitas ketimbang isu politik.

"Manikebu ini berpandangan kalo sastra itu harus menekankan kebebasan individu, refleksi personal, dan tidak harus tunduk pada garis ideologi tertentu. Nah, di spektrum ini, karya-karya Tere Liye cenderung lebih dekat ke Manikebu. Fokusnya banyak ke nilai moral, refleksi personal, kadang spritual, dan tidak terlalu "berisik" soal konflik sosial-politik." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Pengunggah menegaskan bahwa perbedaan selera membaca adalah hal wajar karena berkaitan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Menurutnya, penolakan dalam hubungan akibat jenis bacaan lebih didasari pada pencarian kesamaan frekuensi saat berdiskusi.

"Bahkan di beberapa titik, ada kesan kritik implisit dari Tere Liye ke kelompok Lekra, yang terlalu menuntut sastra untuk "berpihak". Terus, salahnya di mana? Nggak ada. Karena membaca itu bukan cuma soal "bagus atau jelek". Tapi soal "kamu lagi butuh apa dari sebuah buku?" Ada pembaca yangan pengen sastra jadi alat baca realitas, mereka akan lebih dekat ke Pram. Ada yang pengen refleksi hidup yang lebih ringan atau personal, mereka akan nyaman di Tere Liye." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Ia juga menambahkan pembanding berupa alasan personalnya yang akan menghindari interaksi intensif jika menemukan perbedaan selera bacaan yang ekstrem.

Kesesuaian topik obrolan menjadi faktor utama dalam membangun keselarasan hubungan antarindividu.

"Jadi kalo ada yang mundur dari PDKT misalnya, karena preferensi bacaan, itu bukan selalu berarti merendahkan. Aku juga kayaknya, bakal menjauh kalo ketemu perempuan, yang suka baca di wattpad, yang judul ceritanya. "My Gangster Husband", "Suamiku Gangster di Sekolah", " Ustadzah Dinikahi Mafia Tampan", "Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir". Apa aku ngehina bacaa mereka? Ya bukan. Terus? Ya aku pengen punya pasangan, yang kami bakal diskusiin novel dan buku." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Pandangan tersebut ditutup dengan kesimpulan bahwa setiap preferensi sastra memiliki kedudukan yang setara dalam interaksi sosial.

Masyarakat diimbau untuk menyikapi perbedaan selera membaca secara bijak tanpa perlu merasa direndahkan.

"Ya kalo bacaan dia yang aku sebut di atas, kami bakal gak nyambung. Jadi, kalo kamu mau bilang "Date canceled, dia baca buku-buku Pram". Oke oke aja. Atau kamu mau bilang " Date canceled, dia baca buku-buku Goenawan Muhammad". Oke-oke aja. Btw, ikuti aku kalo kamu mau tahu info tentang buku dan sastra." tulis akun Threads @poetryofalfaa.(*)

Editor: 91224 R-ID ElokRepelita [Jakarta] - Perbincangan mengenai pembatalan kencan akibat preferensi bacaan karya Tere Liye tengah menjadi tren hangat di jejaring sosial Threads.

Fenomena tersebut mendapat tanggapan ilmiah dari salah seorang lulusan Sastra Indonesia yang mengulasnya dari sudut pandang pemikiran sastra.

Penjelasan mendalam mengenai alasan di balik perbedaan selera membaca tersebut dibagikan oleh pemilik akun Threads @poetryofalfaa pada tanggal 05/09/26.

"Lagi rame soal "Date canceled gara-gara dia baca buku-buku Tere Liye". Izinkan aku lulusan Sastra Indonesia menjelaskan soal ini ya. Baca sampai selesai agar tidak salah paham. Narasi " Date canceled , dia baca buku-buku Tere Liye" kalo dibaca mentah, kesannya kayak book shaming. Padahal kalau ditarik lebih dalam, itu sebenarnya soal preferensi ideologis dalam membaca." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Ia kemudian memaparkan dua arus besar dalam dunia sastra Indonesia yang memengaruhi pola pikir serta minat para pembaca.

Dua kiblat utama yang dimaksud meliputi pemikiran Pramoedya Ananta Toer serta pemikiran Goenawan Mohamad.

"Sekilas keliatan kayak ngehina bacaan orang. Tapi sebenarnya enggak. Di Indonesia, kalau kita ngomongin arus besar sastra, secara umum bisa dilihat dari dua kiblat: Pramoedya Ananta Toer (Pram) dan Goenawan Mohammad (GM) Pram mewakili kelompok "Lekra". Lekra berpandangan, kalo sastra harus berpijak pada realitas sosial, konflik kelas, sejarah rakyat, dan keberpihakan. GM mewakili kelompok " Manifesto Kebudayaan" atau disingkat "Manikebu"." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Dirinya menilai bahwa penikmat karya Tere Liye cenderung lebih selaras dengan prinsip-prinsip gagasan Manikebu.

Aliran tersebut dinilai mengutamakan perenungan pribadi, ajaran moralitas, serta nuansa spiritualitas ketimbang isu politik.

"Manikebu ini berpandangan kalo sastra itu harus menekankan kebebasan individu, refleksi personal, dan tidak harus tunduk pada garis ideologi tertentu. Nah, di spektrum ini, karya-karya Tere Liye cenderung lebih dekat ke Manikebu. Fokusnya banyak ke nilai moral, refleksi personal, kadang spritual, dan tidak terlalu "berisik" soal konflik sosial-politik." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Pengunggah menegaskan bahwa perbedaan selera membaca adalah hal wajar karena berkaitan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Menurutnya, penolakan dalam hubungan akibat jenis bacaan lebih didasari pada pencarian kesamaan frekuensi saat berdiskusi.

"Bahkan di beberapa titik, ada kesan kritik implisit dari Tere Liye ke kelompok Lekra, yang terlalu menuntut sastra untuk "berpihak". Terus, salahnya di mana? Nggak ada. Karena membaca itu bukan cuma soal "bagus atau jelek". Tapi soal "kamu lagi butuh apa dari sebuah buku?" Ada pembaca yangan pengen sastra jadi alat baca realitas, mereka akan lebih dekat ke Pram. Ada yang pengen refleksi hidup yang lebih ringan atau personal, mereka akan nyaman di Tere Liye." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Ia juga menambahkan pembanding berupa alasan personalnya yang akan menghindari interaksi intensif jika menemukan perbedaan selera bacaan yang ekstrem.

Kesesuaian topik obrolan menjadi faktor utama dalam membangun keselarasan hubungan antarindividu.

"Jadi kalo ada yang mundur dari PDKT misalnya, karena preferensi bacaan, itu bukan selalu berarti merendahkan. Aku juga kayaknya, bakal menjauh kalo ketemu perempuan, yang suka baca di wattpad, yang judul ceritanya. "My Gangster Husband", "Suamiku Gangster di Sekolah", " Ustadzah Dinikahi Mafia Tampan", "Menjadi Boneka Pemuas sang Presdir". Apa aku ngehina bacaa mereka? Ya bukan. Terus? Ya aku pengen punya pasangan, yang kami bakal diskusiin novel dan buku." tulis akun Threads @poetryofalfaa.

Pandangan tersebut ditutup dengan kesimpulan bahwa setiap preferensi sastra memiliki kedudukan yang setara dalam interaksi sosial.

Masyarakat diimbau untuk menyikapi perbedaan selera membaca secara bijak tanpa perlu merasa direndahkan.

"Ya kalo bacaan dia yang aku sebut di atas, kami bakal gak nyambung. Jadi, kalo kamu mau bilang "Date canceled, dia baca buku-buku Pram". Oke oke aja. Atau kamu mau bilang " Date canceled, dia baca buku-buku Goenawan Muhammad". Oke-oke aja. Btw, ikuti aku kalo kamu mau tahu info tentang buku dan sastra." tulis akun Threads @poetryofalfaa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung