Berita, Nasional

Dandhy Laksono Sindir Polisi Tanam Jagung: Gak Ada yang Bingung, Ini Soal Legitimasi dan Dukungan Otot

Repelita.net

28 March 2026 02:30 WIB • 1,160 view

Dandhy Laksono Sindir Polisi Tanam Jagung: Gak Ada yang Bingung, Ini Soal Legitimasi dan Dukungan Otot
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sutradara film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut negara-negara Barat mungkin kebingungan melihat polisi Indonesia menanam jagung dan terlibat dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Dandhy justru mengaku melihat tidak ada kebingungan dari pihak luar, karena ia mengaitkan keterlibatan aparat keamanan dalam proyek pangan tersebut dengan kebutuhan dukungan politik dan logistik.

ADVERTISEMENT

Gak ada yang bingung, menang pemilu curang, legitimasi rendah, butuh dukungan otot, otak, ongkos, demikian ujar Dandhy dalam pernyataannya yang dikutip pada Jumat, 27 Maret 2026.

Ia kemudian menyinggung peran aparat keamanan dalam proyek tersebut dengan menyebut bahwa polisi dan tentara dijadikan sebagai otot yang diberi proyek dan logistik, kemudian dibungkus dengan narasi ketahanan pangan.

Dandhy juga mengkritik narasi ketahanan pangan yang dikaitkan dengan proyek penanaman komoditas tertentu, dengan mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak membutuhkan argumentasi yang kompleks.

Gak perlu cerdas buat beginian, cukup mental culas dan tahan malu, demikian sesal Dandhy yang menilai kebijakan tersebut tidak didasari pemikiran yang matang.

Lanjut Dandhy, pengembangan komoditas dalam skala luas seperti jagung, singkong, atau tebu yang ditanam hingga jutaan hektar di Papua, tidak memiliki korelasi dengan kebutuhan pangan masyarakat secara langsung.

Ditegaskan Dandhy bahwa konsep food estate yang kembali diangkat sebagai kebijakan ketahanan pangan memiliki masalah mendasar, karena hasil dari banyak studi tidak mendukung gagasan tersebut.

Ia turut menyinggung sejarah kebijakan serupa yang disebutnya telah gagal sejak era sebelumnya, dengan mengatakan bahwa program tersebut berpotensi mengulang pola yang sama.

Tiga presiden sejak Soeharto sudah gagal, Prabowo akan jadi yang keempat, sudah gagal saat menjadi Menteri Pertahanan, demikian kunci Dandhy mengkritisi kebijakan yang dijalankan.

Pernyataan Dandhy ini menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya blak-blakan soal keterlibatan Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

Prabowo bahkan memuji langkah polisi yang ikut menanam jagung dan terlibat dalam berbagai kegiatan produksi pangan bersama Tentara Nasional Indonesia dan institusi lainnya.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo setelah menyaksikan pemusnahan 214,84 ton barang bukti narkotika di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, pada Rabu, 29 Oktober 2025.

Prabowo menyebut keterlibatan Polri dalam sektor pangan sebagai langkah positif, karena aparat kepolisian kini ikut berada di garis depan dalam upaya memenuhi kebutuhan rakyat.

Saya lihat polisi sekarang semakin peka terhadap tuntutan bangsa dan negara, polisi sekarang berada di depan bersama yang lain, bersama TNI di bidang produksi pangan, demikian kata Prabowo.

Ia menuturkan bahwa kolaborasi antar institusi menjadi penting dalam menghadapi berbagai tantangan nasional, termasuk dalam hal ketahanan pangan yang menjadi prioritas pemerintah.

Prabowo kemudian menyinggung kemungkinan pandangan negara-negara Barat yang menurutnya akan merasa aneh melihat polisi terlibat dalam urusan pangan, namun ia menegaskan Indonesia memiliki pendekatan yang berbeda.

Kalau kau berangkat ke Inggris, Prancis, ke Barat, mungkin mereka merasa aneh, kok polisi urusin jagung, oh masa polisi kok buka dapur, ya ini Indonesia, Bung, demikian pernyataan Prabowo.

Kita tidak usah ragu-ragu, kita tidak usah menganggap apa yang dari Barat itu pasti benar, benar untuk mereka, kita hormati, tetapi kita lain, tambahnya menegaskan pendekatan khas Indonesia.

Baginya, setiap negara memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang diambil oleh Indonesia tidak harus sama dengan pendekatan yang diterapkan oleh negara lain.

Prabowo menegaskan bahwa seluruh institusi negara harus bekerja bersama demi kepentingan rakyat, dengan kolaborasi antara aparat keamanan dan pemerintah sebagai bagian dari semangat gotong royong.

Kita ini gotong-royong semua ini ya, kita satu keluarga, polisi punya kekuatan, tentara punya kekuatan, ya kita kerja semua untuk rakyat, demikian kata Prabowo menekankan pentingnya sinergi antar institusi.

Kalau rakyat sejahtera saya yakin kriminalitas berkurang, kalau rakyat hilang dari kelaparan dan kemiskinan, saya percaya kriminalitas akan sangat sedikit, pungkas Prabowo meyakini peningkatan kesejahteraan akan berdampak pada keamanan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung