Berita, Nasional

Chatib Basri Ingatkan Belanja Negara Melambat, Anggaran Pemerintah Terancam Seret

Repelita.net

09 June 2026 21:45 WIB • 648 view

Chatib Basri Ingatkan Belanja Negara Melambat, Anggaran Pemerintah Terancam Seret
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memberikan peringatan mengenai potensi perlambatan laju belanja negara akibat keterbatasan penerimaan fiskal.

Meskipun saat ini ekonomi domestik dinilai masih terjaga, ia mengingatkan adanya risiko nyata yang mengintai anggaran pemerintah ke depan.

ADVERTISEMENT

"Situasi di domestik itu tidak seburuk yang dibayangkan. Mungkin banyak yang tidak setuju sama saya," ujarnya dalam forum diskusi di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, konsumsi masyarakat dan pemerintah memang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang signifikan pada awal tahun ini.

"Karena di first quarter itu, pemerintah itu melakukan spending-nya sekitar 20-22%, sehingga kemudian mendorong growth-nya jadi naik secara signifikan," kata Chatib.

Namun, ia menegaskan bahwa pola belanja tinggi seperti itu sulit dipertahankan dalam kuartal-kuartal berikutnya tanpa dukungan pendapatan yang memadai.

Chatib mengibaratkan kondisi fiskal negara layaknya korporasi yang harus menyeimbangkan antara belanja modal dengan realisasi pendapatan perusahaan.

"Kalau growth-nya slowdown, bisa tidak kemudian capex-nya ditambah? Kemungkinan tidak. Sehingga mungkin di kuartal 2, 3, dan 4, pertumbuhan dari government spending-nya nggak mungkin di 22%," terangnya.

Dalam menyiasati tekanan tersebut, ia menyebut pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menggenjot pajak, memangkas belanja, atau mencari utang.

Mengingat kondisi pasar yang belum ideal untuk menambah beban utang, rasionalisasi pengeluaran menjadi langkah yang paling realistis untuk diambil.

"Maka opsi yang paling mungkin itu adalah cut the spending selectively. Fiskal itu tentunya harus dirasionalisasi untuk mengatasi persoalan itu," ungkap dia.

Ia juga menanggapi isu pelemahan nilai tukar rupiah yang kerap dikaitkan dengan konflik geopolitik di Timur Tengah sebagai penyebab utama.

Chatib menegaskan bahwa persepsi risiko investasi yang tecermin dari kenaikan credit default swap sudah memburuk jauh sebelum perang terjadi.

"Sebanyak 23% variasi perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa dijelaskan oleh CDS. Yang menarik, CDS mulai memburuk sebelum perang. Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, itu tidak benar," tegasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung