Repelita [Jakarta] - Tokoh publik Budi Arie Setiadi akhirnya memberikan tanggapan resmi menanggapi kehebohan yang timbul akibat pernyataan kontroversialnya baru-baru ini.
Mantan Menteri Koperasi tersebut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pihak yang merasa terganggu ataupun kurang nyaman.
ADVERTISEMENT
Saya memohon maaf kepada pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut.
Klarifikasi itu menegaskan bahwa pandangan yang sempat memicu perdebatan luas tersebut sepenuhnya murni merupakan buah pemikiran personal.
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan, satu, pernyataan dan analisa tersebut merupakan pernyataan dan analisa pribadi saya.
Budi Arie turut memberikan penegasan guna menepis spekulasi liar yang mengaitkan ucapannya dengan sosok Presiden ketujuh Republik Indonesia yakni Joko Widodo.
Kedua, pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan mengkaitnya dengan Bapak Joko Widodo.
Konsekuensi atas polemik yang ditimbulkan akibat analisa pribadinya tersebut dinyatakan siap ditanggung secara penuh oleh dirinya tanpa ada unsur lempar tanggung jawab.
Yang ketiga, saya siap bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi. Karena analisa dan pernyataan saya tersebut.
Respons keras sebelumnya sempat dilayangkan oleh pengurus pusat Partai Solidaritas Indonesia melalui perwakilan kader bernama Dedek Prayudi.
Pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan percepatan siklus politik dinilai berisiko mengundang tafsir negatif di tengah upaya menjaga kekompakan koalisi.
Kita sibuk menjaga kekompakan koalisi, dia berbicara kesiapan menghadapi percepatan siklus 5 tahunan di samping Pak Jokowi.
Keberadaan Budi Arie yang menyampaikan gagasan tersebut tepat di samping Jokowi bahkan dinilai sebagai bentuk tindakan yang merugikan posisi mantan presiden tersebut.
Ini seperti menjebak Pak Jokowi.
Alih-alih melontarkan wacana kesiapan menghadapi skenario percepatan, langkah terbaik yang wajib dikedepankan adalah merapatkan barisan kekuatan pendukung pemerintah.
Kalau emang ada isu percepatan, bukan kesiapan yang harus dikumandangkan, tapi kerapatan barisan yang harus semakin dijaga.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok