Berita, Timur Tengah

AS Tembak dan Sita Kapal Iran di Teluk Oman

Repelita.net

20 April 2026 14:19 WIB • 830 view

AS Tembak dan Sita Kapal Iran di Teluk Oman
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketegangan global mencapai titik didih baru pada akhir pekan ini setelah Amerika Serikat mengumumkan telah menembak dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Republik Islam di perairan Teluk Oman.

Sebagai tanggapan atas aksi militer Washington tersebut, Teheran dengan sigap mengecam tindakan itu sebagai perompakan bersenjata dan berjanji akan memberikan respons militer yang cepat dan setimpal.

ADVERTISEMENT

Insiden dramatis ini terjadi di saat dunia tengah menyaksikan ketidakstabilan yang melanda kawasan Timur Tengah dari berbagai arah.

Hanya beberapa saat setelah Israel mengumumkan persiapan serangan baru ke Gaza, front perang lainnya justru meletus di perairan strategis Selat Hormuz.

Peristiwa ini secara dramatis meningkatkan risiko konflik langsung antara Washington dan Teheran yang selama ini lebih banyak berperang melalui proksi atau serangan terbatas.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi langsung aksi militer tersebut melalui platform Truth Social pada Ahad, 19 April 2026.

Trump mengidentifikasi kapal yang disita bernama Touska, sebuah kapal kontainer besar yang ia klaim hampir sebesar ukuran kapal induk.

"Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama Touska mencoba melewati blokade angkatan laut kami," tulis Trump dalam unggahannya.

"Kapal Perusak Rudal Terarah USS Spruance mencegat mereka dan memberi peringatan untuk berhenti. Awak Iran menolak mendengarkan, jadi kapal angkatan laut kami menghentikan mereka tepat di jalur mereka dengan meledakkan lubang di ruang mesin."

Trump menambahkan bahwa Marinir AS kini telah mengamankan kapal tersebut dan sedang memeriksa seluruh muatan yang ada di dalamnya.

Menurut klaimnya, kapal Touska telah berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena memiliki riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.

Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis pernyataan yang lebih rinci, menjelaskan bahwa proses penembakan terjadi setelah upaya peringatan yang berlangsung selama enam jam.

Sebuah video yang dirilis secara resmi menunjukkan kapal perang AS memerintahkan awak Touska untuk mengosongkan ruang mesin sebelum melepaskan tembakan.

CENTCOM menggambarkan tindakan itu sebagai langkah yang disengaja, profesional, dan proporsional untuk menegakkan kepatuhan terhadap blokade laut.

Tidak butuh waktu lama bagi Teheran untuk merespons aksi militer Amerika tersebut dengan nada yang tidak kalah keras.

Markas Pusat Para Nabi (Khatam al-Anbiya), komando tertinggi yang mengoordinasikan seluruh angkatan bersenjata Teheran, segera mengeluarkan pernyataan resmi.

"Pasukan Bersenjata Iran akan segera membalas tindakan penembakan yang dilakukan oleh tentara Amerika terhadap salah satu kapal kita," demikian bunyi pernyataan tegas dari juru bicara markas tersebut yang dikutip oleh media pemerintah Iran.

Pernyataan itu secara eksplisit menuduh Amerika Serikat melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang ada.

"Amerika yang agresif telah melanggar gencatan senjata dan melakukan perompakan laut dengan menembakkan peluru ke kapal dagang Iran di perairan Laut Oman, yang menyebabkan gangguan pada sistem navigasinya, serta mendaratkan sejumlah terorisnya di atas kapal yang dimaksud," lanjut pernyataan tersebut.

Teheran menyebut aksi ini sebagai perompakan bersenjata dan menegaskan bahwa Garda Revolusi Republik Islam (IRGC) akan segera membalas perbuatan biadab tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga menyebut kebijakan blokade AS sebagai tindakan kriminal dan perang terhadap umat manusia.

Yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah pernyataan Teheran bahwa mereka tidak hanya akan menuntut secara diplomatik, tetapi juga telah melancarkan serangan balasan awal.

Menurut laporan dari Mehr News Agency, pasukan Republik Islam telah menyerang beberapa kapal militer Amerika dengan pesawat tanpa awak sebagai respons pertama.

"Setelah Amerika menyerang kapal ini, pasukan Iran juga menyerang beberapa kapal militer Amerika dengan pesawat tanpa awak," demikian klaim yang beredar meskipun informasi ini belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Lebih lanjut, Republik Islam mengklaim bahwa kehadiran cepat kapal-kapal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memaksa kapal-kapal AS untuk mundur dari area tersebut.

Jika klaim ini benar, maka ini akan menjadi pertama kalinya dalam konflik terkini di mana Teheran secara langsung menyerang aset militer AS.

Insiden penembakan ini hanyalah puncak gunung es dari kebuntuan yang lebih besar mengenai status penguasaan Selat Hormuz.

Sebelum kapal Touska ditembak, Amerika Serikat telah mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Republik Islam yang bertujuan menghentikan semua kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.

Kebijakan sepihak ini memicu respons balik yang ekstrem dari Teheran yang benar-benar telah menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka.

Lalu lintas kapal hanya akan diizinkan melalui rute yang ditentukan dan dengan otorisasi penuh dari Republik Islam.

Iran menganggap blokade Amerika Serikat sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang baru saja dinegosiasikan di Islamabad, Pakistan.

"Dengan berlanjutnya blokade, status Selat Hormuz akan tetap pada keadaan sebelumnya," demikian pernyataan resmi komando militer Iran.

Dengan Iran yang bertekad menutup selat dan Amerika Serikat yang mempertahankan blokadenya dengan kekuatan militer penuh, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak drastis ketika pasar buka.

Dunia kini menunggu apakah respons cepat Iran akan berupa serangan rudal balistik, perang siber, atau eskalasi lebih lanjut di perairan Teluk.

"Pasukan Iran akan menghukum kapal atau kapal tanker minyak mana pun yang melintasi wilayah tersebut tanpa izin Iran," bunyi ancaman resmi tersebut.

Dunia nyaris tak punya waktu untuk bernapas, dari ancaman perang di Gaza, kini kita dihadapkan pada ancaman perang terbuka antara dua negara adidaya energi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung