Berita, Timur Tengah

AS Siap Operasi Anti-Ranjau di Selat Hormuz, Iran Tanam Maham 3 dan Maham 7: Pembersihan Sulit, Tak Bisa 100 Persen

Repelita.net

17 April 2026 20:36 WIB • 866 view

AS Siap Operasi Anti-Ranjau di Selat Hormuz, Iran Tanam Maham 3 dan Maham 7: Pembersihan Sulit, Tak Bisa 100 Persen
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Amerika Serikat berencana melancarkan operasi pembersihan ranjau (mine countermeasure) di Selat Hormuz menyusul pemasangan puluhan ranjau laut oleh Iran yang telah mengganggu jalur pelayaran global sejak perang pecah pada 28 Februari 2024.

Iran disebut menggunakan kapal permukaan kecil untuk menebar ranjau setelah kapal perang besar mereka hancur akibat serangan gabungan AS-Israel, dengan jumlah ranjau yang ditanam diperkirakan mencapai belasan hingga puluhan.

ADVERTISEMENT

Pemasangan ranjau ini merupakan bagian dari taktik perang asimetris Iran selain drone, rudal anti-kapal, dan kapal serang cepat, yang bertujuan untuk membatasi akses maritim di selat tersibuk dunia.

Dari sekian banyak jenis ranjau, Iran diduga menanam dua tipe modern yang mematikan: Maham 3 dan Maham 7.

Maham 3 adalah ranjau tambat (moored mine) seberat 300 kg yang mampu beroperasi di kedalaman hingga 100 meter, sementara Maham 7 merupakan ranjau dasar laut (bottom mine) berbobot 220 kg dengan bentuk kerucut khusus untuk menghindari deteksi sonar.

Keduanya tidak mengandalkan kontak fisik seperti ranjau jadul, melainkan menggunakan sensor magnetik dan akustik canggih yang mendeteksi perubahan medan magnet atau suara baling-baling kapal di atasnya.

Kesulitan terbesar dalam operasi ini adalah baik AS maupun Iran sama-sama tidak dapat menjamin pembersihan 100 persen, karena Iran sendiri mengaku tidak mampu menemukan kembali semua lokasi ranjau yang telah mereka tebar.

Untuk membersihkan ranjau, AS akan mengandalkan sistem tanpa awak guna meminimalkan risiko personel di selat yang sempit dan rawan serangan balasan.

Metode yang akan digunakan mencakup drone selam Knifefish, kapal permukaan tak berawak MCM (Mine Countermeasures), serta sistem udara AN/ASQ-235 Archerfish yang dijatuhkan dari helikopter MH-60S.

Namun, kapal perusak AS seperti USS Frank E Petersen dan USS Michael Murphy yang melewati selat pada 11 April lalu bukanlah platform utama untuk tugas berat ini, karena pembersihan ranjau sejatinya membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Dua kapal perusak Arleigh Burke itu lebih berfungsi sebagai demonstrasi bahwa navigasi di selat masih memungkinkan, sementara pekerjaan penyapuan yang sesungguhnya akan dilakukan oleh armada pendukung yang tengah dikerahkan dari Sasebo, Jepang.

Selain lambat, proses ini juga sangat berisiko karena kapal dan pesawat AS harus beroperasi dalam jangkauan rudal atau drone Iran jika sewaktu-waktu pertempuran kembali pecah.

Keuntungan strategis Iran dari penebaran ranjau ini sangat besar karena biaya pemasangan yang murah namun mampu memberikan pengaruh tidak proporsional terhadap perdagangan global.

Beberapa ranjau modern bahkan dapat diprogram untuk meledak setelah sejumlah kapal tertentu melintas, menciptakan ketidakpastian dan ketakutan di kalangan pelaut serta perusahaan pelayaran.

Dari sisi hukum internasional, situasi ini diperumit oleh fakta bahwa baik AS maupun Iran tidak menandatangani Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1994, sehingga klaim mengenai perairan teritorial dan hak lintas damai menjadi tumpang tindih.

Iran mengklaim sebagian selat sebagai perairan teritorialnya, sementara hukum internasional umumnya melarang penutupan selat internasional untuk pelayaran non-militer.

Dengan ketidakpastian jumlah dan lokasi ranjau serta ancaman serangan balasan, operasi pembersihan ini diperkirakan akan berlangsung lambat dan berpotensi memicu eskalasi baru meskipun perundingan damai masih terus berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung