Repelita Washington DC - Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Penyebutan itu didasari oleh adanya aktivitas kapal perang Rusia yang kerap bersandar dan beroperasi di wilayah negara Karibia tersebut.
ADVERTISEMENT
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Hegseth dalam sidang Kongres AS yang membahas isu keamanan dan aktivitas intelijen asing di dekat wilayah perairan Amerika.
Ia menyoroti secara khusus keberadaan kapal perang Rusia, termasuk kapal selam bertenaga nuklir, yang beberapa kali bersandar di pelabuhan Kuba.
“Washington sudah memasukkan Kuba sebagai masalah besar karena negara-negara yang berseberangan menggunakan lokasi Kuba yang dekat dengan AS,” ujar Hegseth seperti dikutip dari EFE.
Dalam sidang yang sama, anggota Kongres AS bernama Mario Diaz-Balart mempertanyakan secara langsung penggunaan wilayah Kuba oleh kapal militer Rusia.
Hegseth pun mengakui bahwa situasi tersebut menjadi perhatian serius Washington mengingat lokasi geografis Kuba yang sangat dekat dengan wilayah Amerika Serikat.
Menurut penilaian pemerintah AS, aktivitas militer Rusia dan dugaan operasi intelijen asing di Kuba dinilai dapat mengancam stabilitas keamanan nasional Amerika.
Kondisi ini semakin memperkeruh hubungan kedua negara yang dalam beberapa tahun terakhir memang sudah diwarnai oleh ketegangan diplomatik dan sanksi ekonomi yang terus berlanjut.
Di tengah memanasnya situasi tersebut, mantan Presiden Donald Trump justru mengungkapkan bahwa pemerintah AS akan membuka dialog dengan Kuba dalam waktu dekat.
Trump mengklaim bahwa Kuba telah meminta bantuan kepada Amerika Serikat karena kondisi negaranya yang sedang mengalami kesulitan besar.
“Kuba sudah meminta bantuan dan kami akan berdialog,” kata Trump seperti dilaporkan oleh sejumlah media internasional.
Pernyataan Trump tersebut langsung memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat mengenai arah kebijakan AS terhadap Kuba ke depan.
Sebagian pihak menilai bahwa Washington mungkin akan membuka jalur diplomasi baru, sementara yang lain melihat potensi peningkatan tekanan dan sanksi terhadap Havana semakin besar.
Ketegangan semakin memicu perhatian global setelah Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa AS mungkin akan mengambil alih Kuba setelah konflik di Iran selesai.
Pernyataan kontroversial tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Kuba sejak awal tahun 2026.
Negara itu diketahui tengah menghadapi krisis energi yang serius setelah pasokan minyak dari Venezuela terganggu akibat sanksi dan kondisi geopolitik regional yang tidak menentu.
Pemerintah Kuba sendiri membantah semua tuduhan yang dilontarkan Washington dan menilai bahwa AS sedang melakukan tekanan politik terhadap negaranya.
Laporan media internasional juga menyebut bahwa Amerika Serikat telah meningkatkan aktivitas intelijen di sekitar pesisir Kuba dalam beberapa bulan terakhir.
Analisis CNN menyebutkan bahwa Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS telah menjalankan puluhan misi pengintaian di dekat wilayah Kuba sejak Februari 2026.
Langkah tersebut dilakukan untuk memantau aktivitas Rusia dan kemungkinan keterlibatan negara lain seperti China di kawasan Karibia.
Namun pemerintah Kuba dengan tegas membantah bahwa negaranya menjadi ancaman bagi keamanan Amerika Serikat.
Havana justru menuding Washington melakukan pengintaian dan intimidasi melalui peningkatan operasi militer serta sanksi ekonomi yang berkepanjangan.
Memanasnya hubungan AS dan Kuba kini kembali menjadi perhatian dunia internasional, terutama karena melibatkan isu geopolitik besar seperti Rusia, China, hingga konflik Timur Tengah.
Para pengamat menilai situasi ini dapat memengaruhi stabilitas kawasan Karibia sekaligus memperumit hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Latin lainnya.
Sementara itu, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan antara Washington dan Havana akan mereda dalam waktu dekat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok