Berita, Timur Tengah

AS dan Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Trump Beri Kesempatan Terakhir Sebelum Serangan Besar

Repelita.net

06 April 2026 19:35 WIB • 804 view

AS dan Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Trump Beri Kesempatan Terakhir Sebelum Serangan Besar
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Amerika Serikat, Iran, dan para mediator regional dikabarkan tengah membahas syarat potensi gencatan senjata selama 45 hari yang dapat mengarah ke pengakhiran permanen konflik.

Hal tersebut disampaikan oleh empat sumber dari AS, Israel, dan regional yang mengetahui jalannya pembicaraan, sebagaimana dikutip dari Axios pada Senin, 6 April.

ADVERTISEMENT

Para sumber mengatakan bahwa meskipun peluang tercapainya kesepakatan tergolong kecil, namun ini merupakan upaya terakhir untuk mencegah eskalasi besar-besaran di kawasan Timur Tengah.

"Ada peluang bagus, tetapi jika mereka tidak mencapai kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana," kata Trump pada Minggu, 5 April.

Dua sumber mengatakan bahwa rencana operasional AS dan Israel untuk mengebom besar-besaran fasilitas energi Iran telah disiapkan secara matang.

Namun Trump memberikan perpanjangan tenggat waktu sebagai kesempatan terakhir bagi kedua belah pihak untuk mencapai sebuah kesepakatan damai.

Para sumber juga mengatakan bahwa negosiasi dilakukan melalui mediator dari Pakistan, Turki, Mesir, serta pesan teks antara utusan Trump, Steve Witkoff, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Tahap pertama pembahasan adalah potensi gencatan senjata selama 45 hari yang dapat diperpanjang jika diperlukan waktu untuk pembicaraan lebih lanjut.

Tahap kedua adalah mencapai kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang secara permanen di wilayah tersebut.

Para mediator dikabarkan tengah mengupayakan langkah-langkah membangun kepercayaan agar Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz.

Selain itu, para mediator juga berupaya mencari solusi terkait program pengayaan uranium yang menjadi salah satu sumber ketegangan utama.

Para sumber mengatakan bahwa dua isu ini merupakan kartu tawar utama yang dipegang oleh Iran dalam setiap putaran negosiasi.

Iran dikabarkan tidak setuju untuk melepaskan kedua posisi tawar tersebut hanya sebagai imbalan atas gencatan senjata selama 45 hari.

Pejabat Iran juga dikabarkan tidak ingin terjebak dalam situasi seperti yang terjadi di Gaza atau Lebanon.

Mereka khawatir bahwa AS dan Israel dapat menyerang kembali kapanpun mereka mau setelah masa gencatan senjata berakhir.

Sementara itu, para mediator khawatir bahwa pembalasan Iran atas serangan AS dan Israel akan merusak fasilitas minyak dan air di negara-negara Teluk.

Para pejabat Iran di depan publik masih mengambil sikap keras dan secara terbuka menolak perjanjian yang ditawarkan.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga menyatakan bahwa situasi Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti semula, terutama bagi AS dan Israel.

"Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya ketika, di bawah rezim hukum baru, kerusakan akibat perang yang dipaksakan sepenuhnya dikompensasi dari sebagian pendapatan tol transit," kata Wakil Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabaei, dalam akun X.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung