Repelita Washington D.C. - Amerika Serikat mengambil langkah strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Selat Hormuz, sebuah gerakan yang langsung menyasar titik paling rentan bagi ekonomi Iran.
Aliansi diplomatik yang dibangun AS bersama China berhasil menciptakan skenario terburuk yang paling ditakuti oleh rezim Teheran selama ini.
ADVERTISEMENT
Iran sebelumnya memberlakukan aturan baru yang mewajibkan setiap kapal asing untuk berkoordinasi dengan otoritas setempat jika ingin melintasi jalur perairan yang menjadi urat nadi pasokan minyak global tersebut.
"Iran telah memberlakukan prosedur baru di Selat Hormuz, koordinasi dengan Teheran menjadi syarat mutlak," demikian pernyataan pejabat militer Iran, Mohammad Akraminia, kepada kantor berita IRNA pada Minggu (10/5/2026).
Namun kini Washington merespons dengan operasi gabungan yang mencakup tekanan ekonomi, blokade maritim, dan pengerahan kapal perang tambahan ke kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi bahwa dalam percakapan telepon dengan Menlu China Wang Yi pada akhir April lalu, kedua belah pihak sepakat untuk melarang semua pihak memungut biaya transit di Selat Hormuz.
Kesepakatan AS-China ini menjadi mimpi buruk terbesar bagi Iran yang saat ini dilaporkan sebagian besar memblokir jalur tersebut sehingga mempengaruhi pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga energi internasional.
Selain kesepakatan dengan China, Amerika Serikat juga melancarkan Operasi Kemarahan Ekonomi (Operation Economic Fury) yang memberlakukan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Iran.
"Semua kapal Iran, kapal yang terkena sanksi OFAC, dan kapal yang diduga membawa barang selundupan tunduk pada hak kunjungan dan pencarian di masa perang," tegas Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagaimana dilaporkan.
Iran membalas dengan mengumumkan perluasan zona operasi Selat Hormuz dan memperketat pengawasan terhadap pergerakan militer asing.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan AS mengirimkan senjata melalui jalur perairan Selat Hormuz menuju pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
"Mulai sekarang, kami tak akan mengizinkan senjata Amerika melintasi Selat Hormuz dan memasuki pangkalan-pangkalan regional," ungkap Akraminia dikutip Press TV pada Rabu (13/5/2026).
Meskipun demikian, langkah besar AS yang didukung China ini diprediksi akan semakin menekan perekonomian Iran yang saat ini kehilangan pendapatan hingga 200-500 juta dolar AS per hari dari ekspor minyak.
Para analis militer menilai strategi AS tidak lagi berusaha mengirim kapal perang besar ke dalam selat yang sempit, melainkan memperlebar operasi dengan menggabungkan tekanan ekonomi, diplomasi, dan serangan terbatas.
Hal inilah yang paling ditakuti Iran karena strategi perang asimetris yang mereka persiapkan selama puluhan tahun di Selat Hormuz kini menemui lawan yang lebih cerdik dan tidak mudah jatuh ke dalam perangkap "knife fight" di perairan sempit.*
Editor: 91224 R-ID Elok