Repelita [Jakarta] - Gelombang protes mahasiswa di Yogyakarta diwarnai dengan unjuk rasa teatrikal yang menggunakan replika figur pimpinan tertinggi negara sebagai bentuk kritik makro.
Aksi yang digagas oleh elemen civitas akademika tersebut dilangsungkan di sekitar wilayah persimpangan jalan lingkar Universitas Gadjah Mada pada hari Minggu 7 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan unggahan dokumentasi digital pada laman instagram.com, pergerakan massa kali ini mengusung tema upacara kematian hati kepemimpinan nasional.
Gerakan ini mencuat sebagai akumulasi kekecewaan kelompok pemuda terhadap arah kebijakan tata negara yang dinilai belum mengakomodasi kepentingan masyarakat akar rumput.
Dalam jalannya pertunjukan orasi tersebut, replika yang memuat visualisasi wajah Kepala Negara dan Wakil Presiden diarak sebelum akhirnya dimusnahkan dengan api.
Metode penyampaian aspirasi yang kontras tersebut menarik perhatian pengguna jalan serta warga sekitar yang sedang melintasi jalur utama pendidikan tersebut.
Rangkaian simulasi kritik kebudayaan ini dibagi menjadi tiga babak utama yang merepresentasikan sudut pandang ketidakpuasan publik terhadap situasi domestik.
Fase awal ditandai dengan pengatapan replika tokoh sebagai visualisasi atas beban penderitaan ekonomi yang sedang dirasakan oleh masyarakat luas belakangan ini.
Selanjutnya, prosesi dihantarkan pada visualisasi penguburan yang menyimbolkan hilangnya sensitivitas moral dari para pemegang otoritas kebijakan di tingkat atas.
Pada bagian akhir, sisa material pembakaran dimasukkan ke dalam wadah makan logam sebagai bentuk sindiran terhadap efektivitas program pemenuhan nutrisi nasional.
Rancangan narasi pergerakan yang terstruktur tersebut diklaim hasil dari konsolidasi pemikiran matang dalam forum kajian ilmiah internal organisasi kepemudaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok