Repelita Jakarta - Pengamat media sosial Ade Armando berkeyakinan bahwa Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk menyeret dirinya ke ranah hukum.
Keyakinan tersebut didasari pada fakta bahwa laporan kepolisian yang muncul belakangan ini bukan datang langsung dari tangan Jusuf Kalla, melainkan dari pihak-pihak lain yang diduga memiliki agenda tertentu.
ADVERTISEMENT
Ade memberikan sorotan bahwa upaya pemidanaan terhadap dirinya merupakan inisiatif dari kelompok yang memang sejak awal berniat menjebloskannya ke dalam sel tahanan terkait opini yang ia sampaikan.
Dalam sebuah diskusi televisi pada Selasa malam, 12 Mei 2026, Ade Armando mengungkapkan pandangannya dengan menyatakan, "Pak JK itu sebetulnya tidak merasa saya perlu dilaporkan."
Ia juga menambahkan sebuah asumsi pribadi mengenai absennya tindakan hukum secara langsung dari sang tokoh nasional tersebut sebagai tanda tidak adanya keberatan yang bersifat prinsipil.
"Ternyata Pak JK tidak merasa perlu memperkarakan saya, yang saya asumsikan artinya Pak JK tidak merasa bahwa saya memfitnah beliau," terang Ade Armando saat memberikan penjelasan lebih lanjut.
Meskipun dirinya tidak melarang pihak mana pun untuk melapor ke polisi, Ade dengan tegas menampik tuduhan bahwa dirinya telah melakukan provokasi yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ia memberikan pembelaan atas niat tulusnya dalam memberikan opini publik dengan berujar, "Saya sih bersumpah bahwa saya tidak ingin memprovokasi, tidak ingin menghasut, saya tidak ingin berusaha memecah belah."
Persoalan utama yang menjadi titik kritik Ade Armando adalah terkait interpretasi mengenai konsep mati syahid dalam konteks hubungan antarumat beragama yang sempat dilontarkan oleh Jusuf Kalla dalam sebuah rekaman ceramah.
Ade berpendapat bahwa pernyataan tokoh berpengaruh seperti Jusuf Kalla harus sangat berhati-hati karena memiliki dampak yang sangat luas terhadap pemahaman masyarakat mengenai toleransi beragama.
"Itu yang kami kritik, kami katakan nggak gitu dong. Pak JK ini kan seorang negarawan, seorang tokoh yang berpengaruh, yang didengar banyak orang. Kalau anda katakan begitu, itu justru bisa menimbulkan kesalahpahaman," pungkas Ade Armando.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok