Repelita Jakarta - Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menjadi sasaran kritik dan sorotan berbagai pihak setelah pernyataannya terkait teror kepala babi yang ditujukan kepada jurnalis Tempo.
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, mengkritik pernyataan Hasan Nasbi yang menyarankan awak redaksi Tempo untuk memasak kepala babi tersebut. Menurut Reza, pernyataan itu mengandung dua hal yang patut disoroti.
"Pernyataan Hasan Nasbi itu mengandung dua hal," kata Reza melalui layanan pesan.
Diketahui, Tempo menerima teror berupa kiriman kepala babi ke kantor mereka. Hasan kemudian menyampaikan pernyataan yang dianggap meremehkan insiden tersebut dengan menyarankan agar kepala babi itu dimasak.
Reza menilai pernyataan Hasan yang pertama mengandung makna mengesampingkan harkat hidup manusia. "Penyepelean terhadap harkat hidup manusia," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengiriman kepala babi dapat menjadi ekspresi kemarahan sekaligus intimidasi terhadap pihak penerima. Reza pun mempertanyakan apakah Hasan akan bersikap sama jika Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, menjadi objek pengiriman kepala babi.
"Lantas, pantaskah negara abai terhadap dugaan perbuatan pidana semacam itu? Sekiranya kepala babi dikirim ke rumah Jokowi, apakah Hasan Nasbi akan mengeluarkan pernyataan serupa?" ujar Reza.
Reza juga menyayangkan pernyataan Hasan, terutama karena Presiden Prabowo Subianto belum lama ini mengundang para pimpinan redaksi media ke Hambalang untuk bersilaturahmi.
"Silaturahmi hangat itu memberikan makna betapa pentingnya media dan wartawan di mata Presiden," kata dia.
Selain itu, Reza juga menilai pernyataan Hasan sebagai bentuk pengabaian terhadap hak hidup binatang.
"Sentimen negatif terhadap Tempo, tetapi kenapa pengekspresiannya dilakukan lewat tindak kekerasan terhadap binatang?" ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa penyiksaan terhadap binatang merupakan pelanggaran pasal 302 dan 540 KUHP.
"Perkataan Hasan Nasbi itu kontras betul dengan sikap Prabowo yang sangat menyayangi satwa. Kuda bahkan kucing disayang Prabowo," katanya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok